Nasib rupiah ditangan Bank dan Investor Asing.


bailout
Oleh ; Pablo Adnan

Mengikuti perkembangan rupiah selama beberapa bulan terakhir ini mengingatkan saya kepada krisis moneter 97-98 yang dialami Indonesia , Krisis yang awalnya dianggap sebagai pencarian titik equilibrium nilai rupiah terhadap USD karena sistim managed float yang di anut ketika itu , menjelma menjadi financial nightmare yg menghancur luluhkan industri perbankan kita. Krisis moneter 1998 yg melanda Asia diawali oleh jatuhnya nilai mata uang Bath terhadap USD di awal July 97, kemudian bagaikan wabah penyakit menular. semua mata uang dikawasan Asia Tenggara mengalami hal yang sama , terpuruk nilainya secara tajam terhadap USD. Mata uang rupiah adalah yg paling parah. Nilainya terhadap USD merosot dari Rp 2850 menjadi Rp 14000 per USD kemudian bertengger di Rp.12000 untuk beberapa saat.
Padahal masih segar dalam ingatan saya pada kwartal pertama thn 1997 kawasan Asean plus masih dianggap sbg Asian Tiger Economic dimana Indonesia masih disanjung oleh bankir dan investor asing dengan julukan macan Asia. Bagai mana bisa sang macan asia dalam sekejap kemudian menjadi ayam sayur begitu parah nya sampai tidak ada satupun bank diluar negeri yg mau menegosiasi Letter of Crédit yg diterbitkan oleh Bank Swasta dan Bank milik Pemerintah Indonesia, kecuali LC tsb di confirm oleh Bank Asing terkemuka. Melihat dan mengalami peristiwa ini jiwa merah putih anak bangsa pasti terusik. Memangnya ada kejadian apa dalam kurun waktu 3 bulan di thn 1997? Indonesia yang menjadi primadona para Investment Bankers asing masih di sanjung sebagai macan Asia, tiba tiba , dalam hitungan bulan diperlakukan seperti Negara tak berdaulat , sampai seorang Wakil Direktur IMF dapat memerintah menteri dan mendikte presiden seolah negeri ini milik nenek moyangnya.
Tidak ada peristiwa yg significant di dalam negeri yang dapat memantik aksi jual rupiah sampai terpuruk secara ekstrim . Secara external saat itu pasar valas di Singapore Hongkong dan Tokyo sedang ramai dengan aksi jual besar2an mata uang Malaysian Ringgit dan Thai Bath .
Teringat obrolan saya dengan seorang investment banker asing yang berupaya meyakinkan saya bahwa rupiah akan aman “ don’t worry “ katanya its like the western movie The Good The Bad and The Ugly. Indonesia is the good , Malaysia is the Bad and Thailand is the Ugly… Kenyataanya rupiahlah yang paling besar ter depresiasi sampai 5x lipat. Dengan cepat krisis moneter pun berubah menjadi krisis ekonomi keuangan dan perbankan .
Penyelamatan industri perbankan Indonesia telah menelan biaya sampai rp. 650triliun melalui penerbitan obligasi rekap dimana sampai hari ini dan 10 tahun kedepan rakyat masih akan menanggung bunga dan pengembalian pokok sebesar rp. 60T per tahun . Melalui APBN

Banyak sudah litreratur dan tulisan para pakar tentang penyebab terjadinya krisis moneter 98, mulai dari bubble burst , non prudential banking practice, moral hazard, rupiah over value dan lain sebagainya. Semua ulasan dan pendapat tentunya after the fact,at the benefit of hind sight.
Saya berfikir mengapa begitu mudahnya invisible hands dibalik bank bank luar negeri dan investor asing menaikan ke panggung negara negara dengan predikat sebagai the new emerging market untuk kemudian di runtuhkan berikut hasil pembangunan selama 30 tahun.
Kalau menurut saya penyebab krisis moneter yang berakhir dengan krisis keuangan dan perbankan hanya satu kata yaitu GLOBALISASI.
Globalisasi dengan segala kebebasan yang terkait dengan istilah itu seperti membiarkan kepada mekanisme pasar dan free flow of capital bukanlah arena tempat kita bermain. Krisis moneter 98 telah membuktikan itu. Indonesia termasuk dalam kelas new emerging market dan mata uang rupiah masih dalam kelas non convirtable currency, kedudukannya akan selalu inferior terhadap Investment Bank asing dan investor asing yang menguasai pasar .

Industri keuangan dan perbankan secara global di kuasai oleh 2 profesi yaitu ekonom dan trader. Keduanya mempunyai persepsi yang sangat berbeda mengenai Pasar Uang dan Pasar Modal. Economist mengatakan bahwa harga yg terjadi di pasar adalah harga yang benar karena terjadi akibat supply and demand dan persinggungan curva supply dan demand merefleksikan harga yang benar karena didukung oleh data fundamental . Sedangkan trader mempunyai filosofi bahwa harga yg ter jadi di pasar seringkali salah masih terdapat selisih yang cukup besar antara harga pasar dengan hitungan harga sesungguhnya dan sebagai trader berupaya untuk mencari untung dari kesalahan tersebut. Fundamental ekonomi tidak penting , traders lebih condong kepada faktor psychology likuiditas dan faktor non fundamental lainnya.
Jenis manusia macam inilah yang kita hadapi dipasar.

Tekanan terhadap rupiah
Melemahnya rupiah terhadap dollar belakangan ini disebabkan oleh fundamental ekonomi yang kurang baik dimana trade deficit membengkak menjadi $2,3 milyar deficit terbesar sepanjang sejarah republik , Current Account deficit mencapai $ 9milyar dan cadangan devisa tergerus sebanyak $20milyar menjadi $92 milyar. Cadangan devisa sebesar $20 milyar dipakai oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilisasi nilai rupiah terhadap dollar melalui berbagai macam intervensi sejak January 2013, tidak dijelaskan methode intervensi BI seperti apa karena untuk mata uang rupiah ada harga resmi JISDOR ( Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) yang dikeluarkan oleh BI dan ada harga NDF (Non Delivered Forward) rupiah offshore yang menjadi acuan bagi bank asing dan investor asing.
BI telah gagal mempertahankan kurs pada level rp 9500 , nyatanya kurs hari ini sudah rp 11000 lebih walaupun telah menghabiskan cadangan devisa sebanyak $20 milyar.

Kesulitan Bank Indonesia menjaga stabilitas Rupiah

Pasca Krismon 98 BI mengeluarkan kebijakan yang membatasi akses bank offshore dan non resident kepada pasar spot local (onshore) rupiah termasuk peraturan yang melarang Bank Lokal memberikan kredit rupiah kepada nasabah bukan penduduk (non resident). Secara teori, menutup sumber rupiah bagi Bank Offshore dan non resident akan mengurangi kemungkinan mata uang rupiah menjadi komoditi spekulasi oleh bank dan trader asing.
Peraturan ini dikeluarkan oleh karena antara thn 1999 – 2000 banyak bank asing di Singapore yang menawarkan produk deposito berjangka dalam mata uang rupiah dengan bunga yang lebih tinggi dari deposito serupa di Jakarta. Selain deposito mereka juga menawarkan produk pinjaman dalam mata uang rupiah. Bank bank tersebut dapat menawarkan produk dalam rupiah oleh karena mempunyai akses kepada mata uang rupiah melalui cabangnya di jakarta dan rupiah dari para nasabahnya. Inilah yang dikenal sebagai offshore rupiah. Terminologi dari offshore rupiah adalah rupiah yang di miliki oleh non resident ( bukan penduduk)
Dapat dibayangkan jika BI tidak membatasi akses kepada rupiah atau kepemilikan rupiah secara fisik oleh bank bank dan invesor offshore, maka akan terjadi proses internasionalisasi mata uang rupiah . Rupiah akan menjadi komoditi untuk spekulasi dan Bank Indonesia selaku otoritas moneter tidak dapat melakukan fungsi kontrol dan pengawasan oleh karena segala pembukuan dan terjadinya transaksi adalah diluar Indonesia ( offshore )

Non Delivery Forward (NDF) contract.
Oleh karena adanya peraturan Bank Indonesia tersebut diatas, bank asing yang beroperasi di Singapore seperti UBS, Citigoup, Deutche Bank, Morgan Stanley menawarkan produk derivatif Non Delivery Forward contract .
Non Delivery Forward (NDF) contract adalah kontrak berjangka antara dua mata uang untuk membeli atau menjual pada waktu yang telah disepakati dengan kurs yg telah ditentukan pada saat kontrak dibuat. Dalam NDF tidak terjadi pertukaran fisik valuta saat settlement date, yg diserahkan atau diterima hanya selisih antara kurs saat kontrak dibuat dng kurs (fixing) yg disepakati.
Instrumen foreign exchange ini lazimnya terjadi antara mata uang USD dng mata uang yg dikategorikan sebagai non convertible currency. Sejatinya instrumen ini diciptakan untuk memfasilitasi hedging bagi dunia usaha yg mempunyai exposure dalam non convertible currency. Dengan demikian setiap NDF yg diterbitkan mempunyai keterkaitan underlying transaction .

Pasar NDF offshore Asia berkembang sangat pesat dalam mata uang negara2 asia kecuali sin$, yen dan Hkg$. Jumlah yang terbesar adalah NDF rupiah dimana volume perdagangan mencapai $ 1milyar per hari.

NDF Rupiah (IDR) diperdagangkan dalam jumlah yang besar di Singapura dan sejumlah kecil di Hong Kong dan New York. Kebutuhan untuk melakukan hedging instrument Rupiah merupakan salah satu alasan diperdagangkannya NDF Rupiah. Alasan lain adalah tipisnya pasar on-shore forward dollar terhadap rupiah yang mendorong kebanyakan investor mencari perlindungan instrument pada pasar offshore. Tidak tertutup kemungkinan banyak spekulan bermain di pasar ini, karena statusnya offshore maka diluar jangkauan yuridis Bank Indonesia.
Keberadaan pasar NDF rupiah offshore di Singapore tentunya berpengaruh terhadap perkembangan kurs rupiah terhadap USD karena penentuan kurs pada saat jatuh tempo tidak mengacu kepada kurs spot onshore yang berlaku yg di keluarkan oleh BI. Melainkan hasil fixing oleh panel beranggotakan 5 bank di Singapore, Alasan yang dikemukakan oleh otoritas moneter di Singapore adalah karena pasar dollar/rupiah forward onshore volumenya jauh lebih kecil dari pasar NDF rupiah offshore. Tidak banyak upaya yg dilakukan oleh BI untuk menghadang berkembangnya pasar NDF offshore kecuali melarang bank bank lokal untuk bertransaksi dlm NDF rupiah offshore.

Baru Pada bulan Mei 2013 lalu BI mengeluarkan JISDOR ( Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) sebagai acuan resmi kurs spot dolar rupiah, dengan harapan menjadi acuan juga bagi pasar NDF rupiah offshore sehingga tidak terdapat 2 quotation harga .

Seharusnya Bank Indonesia menyadari dari awal bahwa keberadaan pasar NDF rupiah offshore merupakan ancaman bagi stabilitas kurs rupiah terhadap dollar, pasar ini tercipta di tahun 1999, akan tetapi BI tidak menanggapi secara serious . Fakta bahwa sejak awal pasar NDF tidak mengacu kepada kurs spot onshore seharus nya ditanggapi secara serius, buktinya baru bulan Mei thn 2013 BI mengeluarkan secara resmi JISDOR yang diharapkan menjadi acuan kurs bagi dunia internasional. BI tidak punya kewenangan terhadap NDF rupiah offshore karena berada diluar Indonesia. Fakta dipasar memberi gambaran pihak yang meramaikan perdagangan NDF rupiah offshore hampir semua merupakan investor asing yang berinvestasi di Indonesia mereka melakukan hedging atas investasi rupiahnya di Indonesia. Kenapa BI selaku otoritas moneter tidak dapat memfasilitasi mereka sehingga mereka harus lari ke pasar offshore . Hedging adalah transaksi yang umum dilakukan oleh investor yang melakukan cross currency investment.
Barangkali jika jumlah $20 milyar dari cadangan devisa yg telah digunakan oleh BI untuk intervensi yang tidak jelas, dipakai untuk memfasilitasi investor hedging nilai rupiah exposurenya, mungkin saja tekanan terhadap rupiah akan jauh berkurang dan kurs masih tetap di 9500.

Barangkali inilah satnya kita berfikir kembali untuk meninggalkan sistim ekonomi yang kita anut sekarang yang tunduk kepada mekanisme pasar dan membiarkan free flow of capital. Mekanisme pasar hanya berpihak kepada kekuatan modal dan likwiditas . Free flow of capital menciptakan ketidak pastian karena arus modal dapat keluar masuk tanpa batasan. Pengalaman krismon 98 mengajarkan kepada kita bagaimana sekelompok trader dapat membuat suatu negara yang berdaulat penuh tunduk tanpa syarat . Krisis sub prime mortgage di Amerika telah memicu krisis keuangan global 2008 , sampai pemerintah Amerika pun perlu membail out sejumlah $ 800 milyar untuk menyelamatkan perbankan dan wall street. Sudah menjadi kenyataan di Indonesia bahwa sistim ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja sementara banyak rakyat yang masih hidup dibawah garis kemiskinan.
Dengan jumlah penduduk no 3 terbesar didunia , sumber daya alam yang ada serta luasnya tanah produktif yang tersedia merupakan potensi ekonomi Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain. Apakah pemerintah yang akan datang mempunyai keberanian untuk beralih kepada sistim ala RI?
Marilah kita tunggu….terpilihnya Presiden baru yang mempunyai visi kedepan untuk memakmurkan rakyat dan dapat menciptakan Globalisasi ala Indonesia.

Surat terbuka kepada Gita Wiryawan Capres konvensi Partai Demokrat


Ayo berantas korupsi yang sesungguhnya

Ketika saya mendengar perihal keikutsertaan anda sebagai Capres dalam konvensi Partai Demokrat, secara impulsive timbul rasa bangga dan sukacita ada seorang Gita dalam usia yang masih muda berani maju sebagai calon presiden untuk melakukan perubahan di negeri yg sama sama kita cintai ini. Teringat saya kejadian di tahun 2004 ketika seorang state senator muda dari Illinois dengan nama yang aneh menjadi key note speaker pada Democratic Party convention di Boston, 4 tahun kemudian dia menjadi Presiden kulit hitam pertama di Amerika. Jadi bagi saya nothing is impossible.
Selama beberapa bulan ini saya ikuti perjalanan GW dalam rangka “kampanye” konvensi capres PD melalui situs Ayo Gita Bisa, saya kepincut dengan program pemberantasan korupsi yg disampaikan oleh GW. Yang pasti semua capres baik yg turut dalam konvensi PD maupun yang nantinya diusung oleh partai lain, akan menggunakan thema Pemberantasan Korupsi sebagai issue yang sexy. Jangankan sebagai Calon, sebagai presiden yg sudah berkuasa saja masih perlu untuk membuat gebrakan anti korupsi diawal pemerintahannya.
Pak Harto membentuk TPK ( Tim Pemberantasan Korupsi ) di thn 1967, disusul dengan Team 4 pada thn 1971 dan Operasi Tertib (Opstib) di thn 1977. Pak Habibie membentuk KPKPN ( Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara ) kemudian pemerintahan Gus Dur membentuk TGPTPK ( Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ), kemudian pemerintahan Megawati melahirkan UU no 30 thn 2002 mengenai KPK. Pada awal pemerintahan SBY dibentuk TIMTASTIPIKOR yg diketuai oleh Hendarman Supanji, Jampidsus pada Kejaksaan Agung. Tim ini hanya berumur 2 tahun, dibubarkan oleh SBY pada bulan Juni 2007. At the benefit of hindsight kita semua tau hasil akhir dari pembentukan tim ad hock tersebut tidak menghasilkan apa apa selain menciptakan koruptor baru pada setiap level mulai penyelidikan, penyidikan sampai proses peradilan kasasi.
Menciptakan 4500 penyidik KPK dan medirikan 1 kantor KPK di setiap kota besar in my humble opinion tidak akan menyelesaikan masalah korupsi di Indonesia. Untuk mencegah korupsi harus kembali ke basic, yaitu menciptakan Undang Undang anti korupsi yang tegas , tidak jelimet tidak ngaret sehingga tidak ada istilah grey area. Sebagai contoh sekarang ini istilah uang Negara saja masih menjadi ajang perdebatan, dan interpretasi. Kenapa kita tidak mencontoh Singapore dengan Prevention of Corruption Act Ordinance 39 of 1960. Tidak ber tele2 singkat dan jelas, tidak memberi peluang kepada jaksa maupun hakim untuk bermain karena tidak ada yang abu2. Semua hitam atau putih. Kemudian langkah berikutnya melakukan inventarisasi terhadap kesarjanaan para hakim, berasal dari universitas mana? Hal ini sangat penting karena seperti halnya di Negara lain keterlibatan almamater (khususnya Law School) masih sangat kental. Sehingga pertimbangan hukum yg dibuat oleh seorang hakim tidak akan konyol atau absurd dan akan dibuat secara hati hati karena akan tercatat dalam journal almamater. Contohnya Harvard Law school mempunyai wadah Harvard Law Review yang menerbitkan journal bulanan yang membahas masalah hukum. Menurut data statistik posisi hakim dan jaksa bukanlah pilihan utama para sarjana hukum lulusan Universitas terkemuka di Indonesia, sehingga kebanyakan hakim dan jaksa berasal dari Universitas lapis kedua disinilah kemudian keterlibatan almamater menjadi penting.

Mari kita flashback ke awal pemerintahan SBY. Perkara korupsi merupakan primadona yang sangat menggairahkan bagi kepolisian dan kejaksaan, karena merupakan trade mark partai pemenang pemilu 2004. Program 100 hari pemerintahan SBY 2004, khususnya bagi instansi penegak hukum merupakan ajang mencari credit point dengan demikian memasang target yg ambisius secara kuantitatif penanganan perkara korupsi, sampai dikenal istilah 1-2-3 artinya setiap bulan kejari 1 perkara korupsi, kejati 2 dan seterusnya. Tidak sedikit perkara yang dipaksakan untuk P21 walaupun berkasnya amburadul , di halalkan segala cara termasuk juga pertimbangan hakim yang menunjuk kepada keterangan saksi dalam persidangan yang tidak pernah ada ( saya istilahkan saksi ghoib) BAP saksi yang tidak disumpah. Hal demikian yang jelas merupakan pelanggaran hak azasi seorang terdakwa, tidak pernah terungkap khususnya kepada publik oleh karena main stream media lebih bersahabat dengan aparat hukum sehingga terciptalah opini publik yang sangat berat sebelah. Secara sistemik telah terjadi proses trial by the press, mulai dari penangkapan sampai pelimpahan perkara ke pengadilan. Kadiv Humas, Kapuspen seakan menjadi penuntut umum giat mengumpulkan wartawan media cetak dan eletronik memberikan keterangan yang seringkali tidak didukung oleh data, menciptakan opini publik yang sudah memvonis seorang tersangka. Praduga tak bersalah hanyalah sebuah jargon untuk konsumsi mahasiswa hukum dan seminar. Mainstream media yang seharusnya menjadi instrumen check and balance dalam masalah hukum menjadi corong ketidak pastian hukum. Jika diperhatikan yang terjadi selama ini hampir tidak ada media massa yang melihat dari sisi hukum seorang tersangka/terdakwa. Yang diangkat malah kehidupan pribadi, rumah dan mobil mewah cenderung tabloid style reporting dan gossipy. Jika demikian rumusannya sebaiknya tidak perlu ada proses persidangan yang sebenarnya hanyalah suatu showroom bahwa court of law exist.
Sudah saatnya masyarakat, media serta LSM seperti ICW melihat dari sisi lain dan mempertanyakan ”apakah keadilan telah ditegakan bagi seorang terdakwa”. Has justice been served ? Tentunya dilihat dari dua sisi. Adalah suatu fakta bahwa polisi, jaksa dan hakim yang merupakan pilar keadilan lebih takut kepada wartawan daripada takut samaTuhan.Kita sering mendengar alasan yang dikemukakan oleh para pendekar hukum ”wah gak berani melawan arus” atau ”wah opini publik sudah demikian”. Seolah negara kita ini baru merdeka berada di benua Afrika bertetangga dengan Rwanda, Congo dsb dan tidak mengenal hukum.

Pemberantasan tindak pidana korupsi adalah tugas yang sangat mulia, kini berada pada titik persimpangan dari pemerintahan era orde baru yang dikenal lemah enforcement terhadap tindak pidana korupsi, beralih kepada pemerintahan transisi euphoria reformasi dan sekarang pemerintahan yang mendapat legimitasi langsung dari rakyat dengan program utama pemberantasan korupsi. Peralihan dari satu ekstreem, yaitu maraknya terjadi korupsi, ke ekstreem lain yaitu euphoria pemberantasan korupsi melahirkan fenomena dimasyarakat luas bahwa jika suatu perkara dilimpahkan ke pengadilan maka terdakwa harus dihukum. Akibatnya setiap putusan bebas pada tingkat pengadilan negeri menjadi hal yang kontroversial, tanpa pengetahuan secara faktual bukti dan kesaksian dalam persidangan opini ”pakar” dalam media massa bermunculan yang pada intinya memojokan putusan majelis hakim. Azaz praduga tak bersalah, pro justicia dan equality before the law kemudian hanyalah merupakan jargon atau slogan yang melekat sebagai hak setiap warganegara. Pemberantasan korupsi memerlukan keberanian ”pro justicia”, berani menangkap, memeriksa , menuntut dan mengadili dan sebaliknya secara kesatrya berani melepas, menyatakan tidak cukup bukti, mengeluarkan SP3 dan membebaskan seorang terdakwa karena memang tidak terbukti bersalah. Tanpa harus khawatir akan opini publik, atau malu karena salah tangkap .Jika penyidik meneruskan berkas perkara yang amburadul kepada JPU karena takut akan opini publik, kemudian JPU memaksakan P21 dan melimpahkan ke pengadilan dengan alasan yang sama, maka beban bola panas akan selalu berada pada majelis hakim pemeriksa perkara yaitu meghadapi caci maki masyarakat dan pemeriksaan Komisi Yudicial seandainya terdakwa diputus bebas. Oleh sebab itu penyimpangan terhadap hukum acara yang merugikan seorang terdakwa menjadi tidak penting. Proses passing the buck pun terjadi dari pengadilan tingkat pertama ke pengadilan tinggi kemudian ke Mahkamah Agung. Kesalahan hakim masalah BAP, saksi”ghoib” serta penerapan hukum yang keliru menjadi tidak penting. Pokoknya sudah mengikuti arus dan turut serta dalam program mulia pemberantasan korupsi.

Tanpa disadari pemerintah, proses yang demikian telah menelorkan koruptor koruptor baru pada setiap level penanganan perkara hukum. Ini menjadi buah simalakama yang sebenarnya menciptakan koruptor baru dalam hitungan kelipatan. Bayangkan saja dari proses penyelidikan, penyidikan , sampai kepada persidangan pengadilan tkt pertama kemudian Pengadilan Tinggi hingga Kasasi yg menghasilkan vonis ber kekuatan hukum tetap,berapa banyak tenaga dalam itungan manhours yg terlibat. Program pemberantasan korupsi sekarang ini hanya memenuhi target quantity dan bukan quality, sehingga korupsi yang sesungguhnya semakin marak. Penanganan kasus “korupsi korupsian” telah menguras manpower dari penegak hukum dan merupakan penggunaan manhours yang mubazir. Bukan tidak mungkin bahwa ini merupakan grand scenario sehingga koruptor yang sesungguhnya lepas dari sorotan masyarakat oleh karena ada decoy berupa kasus korupsi2an yang juga menyerap tenaga law enforcement yang menurut Jaksa Agung sudah sangat minim.

Kasus Bank Century kasus pajak Gayus Tambunan, Kasus Wisma Atlet, Kasus rekening gendut Polisi ,Kasus Banggar DPR ,Kasus Hambalang dan entah berapa banyak lagi yang akan mencuat dikemudian hari, luput dari perhatian masyarakat dan penegak hukum sebagai hasil pengalihan perhatian masyarakat oleh media massa mainstream dengan meletupkan kasus korupsi korupsian yg di blow up sedemikian rupa
Masyarakat telah dibuat tercengang oleh ulah Nazarudin dan Gayus Tambunan, Republik ini dibuat guncang oleh besaran dana yg meliputi ratusan triliun rupiah yang dipermainkan oleh kedua anak muda ini.Barangkail kasus Gayus merupakan satu2nya kasus yang memerlukan seorang SBY untuk menerbitkan Instruksi Presiden.
Sekarang LP Sukamiskin di Bandung telah dijadikan LP Khusus Koruptor dengan penghuni sebanyak 407 napi kasus korupsi. Saya tidak sebut napi koruptor tapi napi kasus korupsi karena sebagian besar adalah kasus yang dijerat dengan pasal dalam UU Korupsi akan tetapi bukan koruptor dalam pengertian merampok uang Negara. Bayangkan saja dari jumlah napi yang 407 lebih separuh makan nasi cadongan atau nasi pembagian ransum para napi. Ini suatu indikasi bahwa mereka tidak punya uang.Karena kalau mampu akan pesan melalui catering berkaitan dengan soal kebersihan dan intake jumlah kalori dan gizi yang dikonsumsi.Banyak diantaranya juga dibesuk keluarga hanya satu bulan sekali, karena keluarga tidak punya ongkos.
Jika masyarakat ingin tau sejauh mana keberhasilan pemerintah dalam program pemberantasan korupsi caranya murah dan mudah yaitu membuat random profiling napi yang ada di Sukamiskin. Ambil 100 kasus secara random dari 407 yang ada, uraikan dari berkas yang ada dan lakukan interview. Yakin saya bahwa hasilnya akan mengecewakan karena kebanyakan adalah korupsi2an, atau terjerat karena kesalahan teknis dan bukan pengertian koruptor yang telah merampok uang Negara. Sementara koruptor atau praktek perbuatan korupsi yang sesungguhnya masih marak. Barangklali tugas ICW untuk membuat profiling sehingga dapat membuat peta effektifitas penanganan kasus korupsi oleh pemerintah.
Keberadaan KPK tidak membuat jera para pelaku korupsi karena mungkin perkara yang di tangani adalah yang kecil2 seperti check pelayat, penyuapan.Sedangkan kasus Bank Century. BLBI, kasus Texmaco 30T dan beberapa dalam kategori big fish masih adem aja.
Saya ingin mengutip pernyataan dari salah satu founding fathers Negara tercinta ini:

Dalam peperangan dan usaha pembangunan negara ini rakyat jelatalah yg paling besar memberikan pengorbanan. Karena itu kita wajib membalasnya dengan memberikan kedaulatan dan kemakmuran kepada mereka..rakyat jelata.

Setelah melalui kepemimpinan 6 presiden kemakmuran bagi rakyat belum juga tercapai, dan tidak akan tercapai jika keadilan tidak ditegakkan. Arahkan KPK kepada 3 area saja yaitu perkara kebocoran anggaran 1000Triliun setiap tahunnya, kemudian pajak & bea cukai dan Industri Perminyakan. Saya yakin jika presiden ke 7 dapat menertibkan ketiga bidang ini saja maka rakyat jelata akan berasa sedikit lebih makmur.
Semoga….GW sukses

My Lovely Rita


Sebagai manusia biasa tentunya Rita mempunyai kekurangan. Namun terlepas dari iτυ banyak kelebihan Rita ƴƍ perlu saya sampaikan, hemat saya layak untuk dijadikan panutan oleh anak mantu, keponakan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Kami berumah tangga 42 thn lalu pada usia ƴƍ sangat muda, sejak awal Rita selalu memberi penekanan terhadap 2 hal yaitu menjalankan rukun iman Islam secara konsisten dan menempatkan kepentingan keutuhan keluarga serta kasih sayang dan kebahagiaan anak2 DIATAS SEGALA GALANYA. Saya sering diingatkan bahwa anak adalah titipan Allah yg kelak kita sebagai “pengasuh” harus mempertanggung jawabkan dimata Allah. Landasan hidup berumah tangga ƴƍ sepintas terkesan sederhana, dicontohkan kepada saya dan anak2 melalui perilaku se hari2. Barangkali órαņĝ tidak akan percaya kalau saya katakan bahwa “pertengkaran” kami sebagaimana layaknya terjadi antara suami istri hanya terjadi beberapa kali saja dalam 42thn perkawinan. Rita mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikan conflict suami istri, antara lain dengan menghindar dari conlict secara frontal atau mem vait a compli suami. Hal ini pernah saya tanyakan dan dijawab ” kamu iτυ keras kepala dan punya sifat tidak mau kalah ciri khas Iskandar di Nata, apa jadinya kita kalau harus bertengkar secara frontal, yang penting ƙɑn hasilnya..”

Kepada anak anak đia selalu mengingatkan jangan sampai kalian durhaka terhadap órαņĝ tua. Kalau bapakmu atau ibumu membuat kesalahan, mengadulah kpd Allah, minta kpd Allah, jangan berbuat tindakan maupun ucapan ƴƍ menjadikan kalian anak yang durhaka thd órαņĝ tua. Rita iτυ sangat menyayangi anak anak, mau iτυ anak sendiri, anak órαņĝ lain, bahkan anak pembantu kamipun memanggilnya “mamah”. Ada 21 anak ƴƍ diasuhnya sejak mereka kecil, kini sudah menjadi órαņĝ ƴƍ mempunyai pekerjaan.

Dimata saya sifat dan karakter seorang Rita dari awal sampai akhir sangat konsisten, tidak berubah walaupun dalam kapasitas peran yang berbeda sejak 42thn lalu sebagai pengatin muda, sifat sebagai istri seorang executive muda yang sedang menimba karir, sifat sebagai istri direktur bank , sifat sbg istri seorang napi adalah sama, yaitu berbakti kepada suami dan tidak pernah ngoyo meminta atau mengejar harta benda. Tidak pernah sekalipun terucap ” kang beliin aku mobil atau rumah..” Dari mondok di mertua indah permai, sampai punya rumah di Cipete , Simpruk, kemudian harus berpindah lagi mengontrak rumah ukuran 150m2, kemudian punya rumah Lαƍi di kemang dan terakhir mondok Lαƍi di anak mantu mansion, kesemuanya đia jalankan dengan senyuman. Ketika rumah simpruk lenyap ƴƍ ƀɑƍi kami berdua mempunyai nilai yang sentimentil karena kita design bersama, Rita memberi comfort kepada saya dengan mengatakan “relakan aja memang belum rejeki kita” Đia punya prinsip bahwa Allah memberi yang kita perlukan. Barangkali jika diberi melebihi dari ƴƍ kita perlukan akan menimbulkan malapetaka, walahualam.

Rita perpandangan bahwa hidup ini harus kita terima apa adanya ” at face value” sebab iτυ đia tidak pernah in denial maupun berupaya untuk menjadi órαņĝ lain. Be yourself itulah ƴƍ selalu diingatkan kepada anak2, dont try τσ be someone else that you’re not. Makanya didalam masalah pendidikan dan jodoh, kita sebagai órαņĝ tua selalu serahkan kepada pilihan masing2 anak dan sama sekali tidak pernah memaksakan dengan kehendak órαņĝ tua. Tujuan akhirnya adalah kebahagiaan anak anak.

Rita sangat bangga dengan hasil karya anak2nya, dan selalu menjadi topik pembicaraan dengan saya selama ber hari2 dengan pancaran muka kebahagiaan disertai ucapan puji syukur kepada Allah swt: ketika Nia sukses dengan film pertamanya Ca Bao Ƙɑn kemudian mendapat piala citra untuk Arisan. Ketika Otto pertama kali menghasilkan pendapatan untuk Mesana atas transaksi ƴƍ đia kelola sendiri, ketika Otto dan Echa dengan gigihnya mengurus pengobatan uni Lena dengan segala risiko dan tantangannya,setiap proses menjadi topik pembicaraan kami. Kemudian ketika film Gara2 Bola hasil penulisan Oggie rampung dan ditayangkan di bioskop,terakhir belum lama ini  ketika Oggie mengambil langkah besar untuk meminjam KPR demi memiliki rumah sendiri.

Sebagai seorang ibu sangat bangga bahwa sifat2 ƴƍ đia tanamkan sejak kecil kpd anak2nya mulai terlihat dalam perilaku di dunia nyata.

Saya pribadi sangat sangat sangat terpukul dengan kepergiannya ƴƍ begitu mendadak, rasanya separo jiwa saya hilang. Perjuangan saya mencari keadilan belumlah selesai . Kini tanpa đia rasanya berat. Tiada mɑlɑm ƴƍ berlalu selama 30 ĥarȉ ini tanpa tetesan air mata. Tetesan airmata kerinduan, tetesan airmata penyesalan, tetesan airmata kehilangan my guardian angel ƴƍ selalu menjadi perisai dengan doa2nya, tetesan airmata karena cita2 Rita adalah untuk menyaksikan pernikahan cucu2 menjadi sebuah impian, tetesan airmata karena janji2 saya kepadanya ƴƍ tidak akan terwujud, tetesan airmata karena niat saya untuk membahagiakannya kandas. Singkatnya, rasa sedih yang teramat dalam yang belum pernah saya rasakan selama hidup ini.

Didalam proses untuk memahami kehendak Allah ini selalu terlontar pertanyaan ƴɑ Allah kenapa đia , kenapa bukan saya yg jelas berpenyakit jantung dan tidak dapat berfungsi secara utuh karena terkungkung. Saya pun merenung lama jauh kebelakang mengingat setiap peristiwa didalam perjalanan hidup kami. Astagfirullahalazim cobaan demi cobaan ƴƍ dialami Rita sunƍƍuh luar biasa, selama bertugas di Jeddah dalam kurun waktu 18 bulan secara ber turut turut harus kehilangan anak, adik dan ibu. Dalam mendampingi saya sebagai istri harus mengalami, menyaksikan , merasakan 2 kali peristiwa hukum terhadap saya. Bagaimana perasaan melihat suami menjadi bulan2an aparat hukum dan media massa, padahal đia sangat paham sesungguhnya apa yang terjadi. Sudah sejak dulu, Rita tidak pernah berkeluh kesah kepada teman , kepada suami maupun anak2. Hanya kepada Allah tempat đia mengadu, setelah shalat tahajud sampai satu jam lebih đia mengeluarkan keluh kesahnya. Untuk kemudian menjadi tenang kembali menghadapi semuanya dengan senyuman.

Sunƍƍuh egois jika saya tidak merelakan kepergiannya, barangkali berbagai peristiwa hukum ƴƍ terjadi di Indonesia belakangan ini ƴƍ memberi gambaran betapa bobroknya aparat hukum, menjadi pemantik kekesalan yang dipendam. Barangkali Allah berpendapat bahwa Rita telah lulus berbagai macam cobaan, sudah selayaknya berada di tempat yang lebih baik. ‎​Rest In peace my lovely Rita.

Inalillahi wainailahi roj’iun

Perkenalan saya dengan Otista


 Seandainya ada yg bertanya kepada saya 10 thn lalu, Oto Iskandar di Nata itu mendapat gelar pahlawan nasional atas jasa apa? Apa yang telah iya lakukan bagi negeri ini.  Maka jawaban saya akan klasik seperti yang ada dalam buku sejarah waktu di Sekolah Rakyat yaitu , pernah duduk sebagai anggota Volksraad selama 2 periode, kemudian  duduk sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, beliau yg pertama kali mengusulkan Soekarno Hatta sebagai Presiden dan wakil. Setelah itu diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Keamanan kabinet pertama RI. Tiga  bulan kemudian  diculik dan dibunuh bukan oleh Belanda, bukan juga oleh Jepang melainkan oleh bangsa sendiri. Itulah yang saya ketahui. Tingkat pengetahuan saya  mengenai sosok Otista sama dengan  teman sebangku saya di SR, SMP SMA, tidak lebih tidak kurang. Kenapa sedangkal itu? Sebagai cucu Oto Iskandar di Nata dari putra yg paling tua seharusnya dapat mengembangkan lebih luas lagi jasa kepahlawanan beliau, sejak duduk sebagai anggota Volksraad, Memimpin Organisasi Paguyuban Pasundan sampai periode  kemerdekaan .

Dan yang lebih penting lagi adalah mencari jawaban atas misteri yang sampai hari ini belum juga terkuak yaitu “apa yang sesungguhnya terjadi pada periode Oktober 1945 sampai dengan Desember 1945 terhadap Otista”

Masih segar dalam ingatan saya, didorong oleh rasa ingin tahu yg  lebih dalam mengenai sosok Aki Oto saya sering bertanya kpd ayah saya dan setiap kali saya bertanya selalu mendapat hening sebagai Jawaban. Sejak saya kecil sampai menginjak dewasa dan punya keluarga,  saya selalu  berupaya untuk mencari celah agar dapat berdiskusi mengenai subyek Aki Oto , dengan harapan bahwa yg dihadapi nya bukan lagi anak kecil, mau untuk berbagi cerita.Kali ini tanggapan beliau tidak lagi hening melainkan kalimat. “one day I will tell you “ disertai oleh perubahan raut muka yg memancarkan kesedihan atau kemarahan atau diantara itu

Begitu juga kalau bertanya kepada para paman, semua berupaya untuk menghidar dari subjek pembicaraan soal Aki Oto.

Padahal masih berbekas rasa bangga sebagai anak kecil setiap melintas jalan Oto Iskandar di Nata di Bogor maupun di Bandung. Kemudian rasa bangga yang lebih wow ketika menghadiri peresmian perubahan nama jalan Bidara Cina menjadi jalan Oto Iskandar di Nata oleh Gubernur Bang Ali di awal tahun 70 an.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya pun hanyut dalam hiruk pikuk kehidupan berkeluarga, dan pekerjaan yg menuntut waktu. Hasrat untuk menggali dan mengetahui lebih dalam mengenai aki Oto setidak nya lebih dari yg tertulis dalam buku pelajaran SR menjadi sirna.

Di awal thn 80 an, ketika kami 4 kakak beradik sudah berkeluarga dan mempunyai pekerjaan masing2, ayah saya mengutarakan niatnya untuk mendirikan Yayasan Oto Iskandar di Nata yang bergerak dalam bidang sosial, itulah kali pertama secara terbuka membahas soal aki Oto. Tapi dalam konteks yg berbeda, sinyal yg saya tangkap walaupun tidak secara explicit adalah kurang lebih ” let by gones be by gones“. Kita pun menyambut baik ide pendirian yayasan dengan proyek pertama adalah mendirikan Wisma Karya Bhakti bagi anak yatim. Kebetulan keluarga memiliki tanah didaerah Sawangan yg sudah dibeli bbrp tahun sebelumnya , tanah tsb kemudian dihibahkan kepada yayasan dan dalam tempo satu tahun Wisma Karya Bhakti berdiri dengan 22 anak yatim dalam asuhanya.

 

Satu2 nya orang yg ceria jika diajak diskusi soal Aki adalah Embah Soekirah istri Aki Oto.  Saya mendapat kehormatan besar pada waktu bertugas di Citibank Jeddah dapat menunaikan ibadah haji bersama embah Soekirah,  mbah Sen, ayah dan ibu serta adik perempuan saya yg paling kecil. Kesempatan itu tidak di sia2kan oleh istri sy Rita seorang yang sangat mengagumi Embah tapi jarang ketemu karena faktor domisili, paling ketemu saat lebaran saja atau perayaan perkawinan saudara.

Karena ada waktu 2 minggu yg senggang sebelum wukuf di Arafah, suasana rumah yg biasanya sepi menjadi ramai, anak2 masih kecil lebih banyak menghabiskan waktu sama ayah ibu serta adik saya sesama video freaks, melahap video koleksi library Citibank. Sedangkan kami berempat ngobrol di kamar tamu bawah. Saya niatnya mau banyak tanya soal aki Oto, tapi kejadiannya  malah terbalik menjadi sesi nasihat, petuah dari embah kepada istri  on how to be a good wife ( thank you Embah). Obrolan dengan Embah memang mengasyikan karena sincere dan tidak terlihat upaya untuk menyembunyikan sesuatu semua diceritakan and I mean semua, diluar pekerjaan Aki dan kiprah politik nya. Walaupun informasi yg saya peroleh tidak seperti yg diharapkan, tapi saya mendapat gambaran penuh tentang sosok Embah, an amazing woman who took on the world by herself and raised 11 children. Menjadi istri seorang Oto Iskandar di Nata,  di era yg penuh dengan ketidak pastian, masih dijajah oleh bangsa lain, jaman yg penuh dengan intrik, syak wasangka dan fitnah bukanlah suatu peran yg mudah dilakoni, peran yg memerlukan kepribadian yg kuat berhati baja dan rasa cinta tanpa syarat. Keterbatasan informasi mengenai kiprah politik Aki diluar pagar rumah sangat di mengerti karena sejak kelahiran ayah saya sbg anak pertama di bln Januari thn 1924, tugas pokok, tanpa job description, yg muncul dari naluri keibuan adalah bagaimana agar sebelas anak ini mendapat pendidikan dan menjadi orang semua. Without a doubt she deserves bintang  Mahaputra untuk itu. Bagi saya sosok Embah layak untuk menjadi panutan bagi semua wanita Indonesia, barangkali ini yg namanya unconditional love. Terucap dari mulutnya dalam tutur kata yg lembut kepada Rita dan saya bahwa setiap hari sejak kepergian Aki dari rumah di bulan Oktober 1945, embah masih mengharapkan tiba2 muncul mukanya Aki seperti yg biasa iya lakukan. She never gave up on aki coming home one day sampai tahun 1973, ketika pemerintah menganugerahkan bintang mahaputra. Saat itu beliau baru yakin memang aki sudah tidak ada. Obrolan kami di Jeddah itu terjadi pada thn 1976, artinya saat itu baru 3 thn berlalu Embah yakin bahwa aki sudah tidak ada, walaupun telah melalui berbagai acara seremonial seperti peresmian monumen pasir pahlawan, persidangan ecek2 “pembunuh ” aki, pembelian gelar pahlawan nasional dan banyak lagi. Embah dengan enteng menjawab keyakinan itu ada disini sambil menunjuk ke dadanya.

Barangkali keyakinan itu adalah defense mechanism yg membuatnya tegar selama ini.

Perjalanan waktu terasa begitu cepat sementara itu dikalangan para cucu Otista ( para sepupu saya) tidak ada yg tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai apa yg sesungguhnya terjadi, atau mencari jawaban dari banyak pertanyaan  

Sayapun mengikuti arus untuk menerima saja sesuai dengan apa yg diajarkan dalam buku sejarah. Meskipun demikian masih sering juga terlibat dalam diskusi atara otak kiri dengan otak kanan, misalnya Jawaban hening dari ayah saya itu bisa karena 3 hal pertama It was a very sad and painful experience, kedua Aki Oto did some very bad things dan ketiga memang benar2 gak tau. Saya cenderung mengikuti alasan yg pertama.

 

Sikap yg ignorant perkara aki ini berubah total ketika membaca bukunya Iip Yahya “Otista the untold story” pada tahun 2008, dilanjutkan dengan perkenalan ketika Iip dibawa oleh paman saya Rachmadi untuk bertemu  muka . Disini saya baru sadari bertemu muka dengan seorang anak muda, tidak ada hubungan keluarga akan tetapi lebih tau secara terperinci mengenai kakek saya daripada saya cucunya.  Dan ketika saya tanyakan Iip motivasinya apa sampai menggali begitu dalam, hanyut diantara ribuan lembar dokumen yg ada di arsip nasional, melakukan interview dsb, dia menjawab. Saya ini orang Sunda dari Tasik ekonomi pas2an dan generasi saya kehilangan tokoh panutan dan menurut saya pak Oto itu belum tertandingi oleh siapapun orang Indonesia yg masih hidup sekalipun.

Jawaban tsb merupakan wake up call bagi saya, dan setelah membaca ratusan lembar tulisan dan mengarungi internet, saya sadari ” I should have done this 30 yrs ago” dng segala network dan resources yg saya miliki, kenapa baru sekarang at the eleventh hour  dengan segala keterbatasan saya dapat lebih  mengenal dan akrab dengan karakter nya Aki Oto. Hubungan dengan Iip pun berlanjut melalui email dalam rangka melanjutkan , mencari jawaban atas misteri yang sampai hari ini belum terjawab. Truth is the only merit that gives dignity and worth to history demikian menurut John Acton seorang sejarawan Inggris.

Keterlibatan  Otista dalam pendirian PETA, BKR yg kemudian menjadi cikal bakal berdirinya TNI, turut membuat koreksi atas naskah Proklamasi  dan memperkenalkan pekik “merdeka” adalah sebagian  fakta sejarah yang tidak pernah dimunculkan dalam penerbitan maupun journal mainstream .

 

Dalam periode dari 1930 sampai beliau diculik, langkah politik, sikap dan bagaimana memposisikan diri memang juara. Seorang visioner yg piawai dalam memanfaatkan organisasi, yg dibentuk oleh penjajah sekalipun , yg penting suaranya bisa bunyi, gaungnya sampai ke arus bawah. Satu hal yg menonjol dan konsisten adalah soal keperdulian terhadap rakyat jelata, dan keinginan yg kuat untuk memerdekakan bangsa, sejak duduk sbg anggota Volskrad di thn 1931. Putri paling bontot yg lahir di thn 1945 diberi nama Merdekawati adalah cerminan dari besarnya niat memerdekakan bangsa. Sekarang saya baru paham  kenapa lawan politik dan kelompok yg bersebrangan sampai harus mengambil tindakan brutal menculik dan membunuh beliau, ini bukan soal penghianatan, atau segala tuduhan miring thd beliau akan tetapi mereka takut!

He would have been a great leader.

Sekarang sy flashback dan terbayang raut muka ayah  setiap saya bertanya, dan baginya it was a very painful and bitter experience, apalagi kemudian harus hidup sebagai tentara dibawah bayang2 controversial Aki. Apa yg dikatakan oleh Iip Yahya  itu betul, Soekarno itu konseptor dengan pemikiran yg kampiun, tapi Aki is the man who make things happen, and doesn’t need the credit point. The two of them together?? Yang satu pasti pasang kuda2 terus.

Sekarang di era Informasi Teknologi yg semakin canggih kita harapkan tabir yg sampai hari ini masih sebuah misteri dapat terkuak dan menjadi fakta sejarah bangsa Indonesia, bukan teori konspirasi seperti halnya pembunuhan terhadap JFK.

Semoga..

 

 

Bung Karno dimakan oleh revolusi yang dibayangkannya. Sebuah tragedy besar tak terelakkan. Tragedi Bung Karno adalah juga tragedi kita, sebagai sebuah bangsa. Dan tragedi Oto adalah gambaran dari pengabdian seorang patriot pada saat kekalutan revolusi telah mulai mencekam kesadaran. Karena itu kita menekurkan kepala sambil merenung betapa mahalnya harga yang harus dibayar dalam perjalanan sejarah bangsa.

 

                                                   Prof.Dr. Taufik Abdullah

 

CARRY TRADE- Bom waktu yang akhirnya meledak


CARRY TRADE, BOM WAKTU YANG AKHIRNYA MELEDAK
Perbankan Nasional Makin terancam
Derivatif Carry Trade, bukan istilah baru dalam dunia perbankan. Namun kini terasakan akibatnya sebagai “tsunami keuangan” yang meluluh lantakkan persendian ekonomi kita. Bisakah kita mengantisipasinya?

Oleh :DID
Krisis keuangan yang terjadi di Amerika pada akhir September 2008 ditandai dengan jatuhnya Bear & Stern, Lehman Bros, Merryl Lynch dan AIG , disusul oleh jatuhnya Dow Jones ke tingkat dibawah 10000, terendah sejak tahun 2004 . Dalam sekejap dampak dari krisis ini berimbas kepada hampir semua pasar modal di dunia termasuk pasar modal Indonesia. Aksi jual terhadap saham saham unggulan di bursa effek Indonesia dipicu oleh aksi jual oleh investor asing, IHSG per November 2008 jatuh ke level 1241 atau menurun sebesar 53,82% dibandingkan satu tahun sebelumnya.
Krisis keuangan di Amerika yang kini mendunia menjadi global financial crisis, telah memantik kepanikan pada sektor perbankan internasional yang ditandai oleh pergerakan kurs dan suku bunga secara erratic diantaranya kurs yen yang menguat 40% terhadap US$ dari kurs 120 yen/US$ menjadi 89 yen/US$, demikian juga dengan kurs mata uang berbunga tinggi lainnya seperti Australian dollar dengan cepat terdepresiasi nilainya sebesar 38% terhadap mata uang yen. Ironisnya, gerakan menguatnya yen secara drastis dan melemahnya US$,AUD,NZD serta mata uang berbunga tinggi lainnya tidak terkait dengan fundamental ekonomi dari negara tersebut melainkan lebih banyak disebabkan oleh aksi unwinding instrumen derivative carry trade secara besar-besaran. Melikuidasi instrumen structured derivative semacam ini dalam volume besar dan searah dalam kondisi pasar yang tidak normal pada akhirnya menciptakan demand /supply baru, menguatnya yen terhadap US$ adalah akibat dari banyaknya demand pembelian yen untuk membayar kembali pinjaman dalam yen sebagai bagian dari proses unwinding sebaliknya menjual asset dalam US$,AUD,NZD akan menekan kurs mata uang tersebut kebawah. Aksi melikuidasi posisi derivative carry trade sejatinya dimaksud untuk membatasi jumlah kerugian (cut loss ) nyatanya telah menjadi booster terhadap laju kecepatan pergerakan kurs mata uang yang terlibat sehingga menjadi total loss.
Carry Trade adalah instrumen derivative yang dikenal dalam dunia perdagangan forex dimana investor menjual atau meminjam dalam mata uang ber suku bunga rendah untuk kemudian diinvestasikan kedalam asset mata uang yang berbunga lebih besar. Contoh sederhananya meminjam dalam mata uang yen dengan bunga 1% untuk kemudian hasil pinjaman tersebut di depositokan dalam mata uang australian dollar dengan pendapatan bunga 12%, atau diinvest kedalam intrumen obligasi recap mata uang rupiah dengan coupon rate 12% . Interest differential atau perbedaan suku bunga 11% merupakan pendapatan yang sangat menggiurkan dibandingkan dengan investasi dalam aset lainnya. Investor menilai bahwa risiko akibat pergerakan kurs antara 2 mata uang dapat tercover oleh pendapatan dari interest differential tersebut.
Dalam kurun waktu 3 tahun kebelakang ini instrumen derivative carry trade yen merupakan primadona para investor oleh sebab pemerintah Jepang tetap mempertahankan sukubunga dibawah 1% agar supaya produk ekpor jepang tetap kompetitif dan membiarkan kurs yen undervalued terhadap mata uang US$ dan Euro. Tidak ada data yang akurat mengenai besarnya volume carry trade yen. Bank for International Settlement (BIS) memperkirakan pada awal tahun 2007 volume carry trade yen telah mencapai jumlah US$ 40-50 triliun. Sulitnya mendapat angka yang akurat disebabkan sebagian besar transaksi dilakukan off balance sheet, dikemas dalam bentuk interest rate/currency swap maupun bentuk structured derivative lainnya.
Dalam transaksi carry trade yen, investor mengandalkan kepada kekuatan US$ terhadap yen dengan demikian akan merugi jika kurs yen menguat terhadap mata uang US$. Kondisi merugi juga dapat terjadi jika suku bunga yen naik dan penurunan suku bunga dari asset yang diinvestasikan. Selama jumlah kerugian tersebut dapat ter cover oleh pendapatan dari interest differential maka secara netto belum terjadi kerugian bagi investor.
INVESTOR INDONESIA
Instrumen derivative carry trade yen banyak ditawarkan sebagai produk oleh bank-bank asing yang beroperasi di Indonesia kepada korporasi maupun high networth individual sebagai alternatif investasi dengan yield pendapatan yang lebih besar ketimbang deposito dalam rupiah dengan yield 7% gross maupun deposito US$ dengan yield 3-4%. Oleh karena pergerakan kurs US$/yen cukup stabil selama kurun waktu 3 tahun kebelakang, maka tidak heran jika produk ini banyak digandrungi oleh investor Indonesia yang mempunyai deposito di Jakarta maupun yang selama ini menyimpan dananya sebagai deposito di Singapore melalui aktifitas private banking. Mengingat rendahnya suku bunga deposito dalam US$ dan rupiah disertai kepiawaian para marketing officers bank asing dalam menawarkan produk banknya, dapat di asumsikan bahwa volumenya cukup besar. Konon menurut informasi yang beredar di pasar ada satu bank asing yang beroperasi di Indonesia masih mempunyai tagihan kepada para nasabahnya sebesar US$700juta, ini setelah bank mencairkan jaminan margin deposito para nasabah tersebut. Atau dalam kata lain setelah para nasabah membayar kerugian akibat posisi carry trade yg dimilikinya melalui pencairan deposito yang dijadikan collateral, masih tersisa sejumlah US$700 juta kerugian yang tidak tercover oleh collateral. Sudah hampir pasti bahwa para nasabah tidak akan mau menombok sejumlah uang tambahan diatas collateral deposito yang sudah ludes. Alternatifnya bank yang harus menanggung sebagai kerugian operasionil. Melihat angka tersebut patut diduga bahwa volume carry trade yen yang terjadi selama ini dalam jumlah yang sangat besar. Bagaimana hal ini bisa luput dari pengawasan Bank Indonesia? Derivative ini tidak mempunyai underlying transaction , hanya memanfaatkan interest differential dikemas sebagai structured product ,dengan demikian jelas melanggar ketentuan yang ada. Akan kelihatan janggal jika ada seorang nasabah ibu rumah tangga kebetulan mempunyai deposito dalam USD pada bank di Jakarta meminjam dalam mata uang yen, kemudian memiliki asset obligasi dlm AUD. Oleh sebab itu sebagai cover up ,secara administrasi bank mengatur pembukaan perusahaan offshore yg bertindak sebagai proxy dari nasabah. Seluruh transaksi dilakukan atas nama perusahaan offshore, deposito atas nama nasabah dijadikan collateral menjamin transaksi atas nama perusahaan offshore tersebut.
Sejak medio 2007 sampai sekarang tidak diketahui sudah berapa besar kerugian yang diderita secara global oleh nasabah bank, institutional investor, hedge funds dan bank itu sendiri akibat dari instrumen derivative ini, jika berpegang kepada angka volume menurut BIS yang mengindikasikan bahwa secara global volume carry trade yen telah mencapai US$ 40 – 50 triliun, maka dengan assumsi mata uang yen menguat secara rata2 terhadap US$ dan mata uang lainnya sebesar 40%,maka sejumlah kurang lebih US$ 15-20 triliun telah menguap akibat instrumen derivative ini.
Bank Indonesia perlu segera mengadakan pemeriksaan seberapa besar volume carry trade derivatives baik yang sudah di unwind maupun yang masih outstanding yang dipegang oleh bank-bank di Indonesia baik atas nama bank itu sendiri maupun atas nama nasabah. Kerugian akibat intrumen carry trade tidak akan menyisakan apa-apa, seperti badai tsunami lajunya pergerakan kurs dalam kondisi pasar terbatas ( thin market) mengakibatkan jumlah kerugian akan melebihi jumlah deposito margin collateral. Akan sulit bagi bank untuk menagih sisa kerugian kepada nasabah yang telah kehilangan seluruh depositonya , sehingga bank terpaksa menanggung kerugian tersebut sebagai uncovered total loss.Berbeda dengan kerugian bank akibat NPL (non performing loan) setidaknya masih meninggalkan jaminan asset sebagai collateral serta perusahaan itu sendiri sebagai a going concern.
Dengan kata lain, gonjang-ganjing perekonomian di tanah air, khususnya sektor perbankan masih penuh dengan gelombang susulan dengan kekuatan yang sama besarnya—untuk tidak mengatakan lebih besar. Diperlukan kebijakan, juga kecerdasan dan keberanian para ekonom dan banker, atau bahkan seluruh ahli dalam bidang ekonomi. Negeri ini terlalu riskan kalau hanya diserahkan kepada satu atau dua orang yang kebetulan memegang kekuasaan.

Si Kabayan Merenung Murung, Berlagak jadi Ekonom.


 

Sebagai  negara kepulauan terpanjang di muka bumi dengan anak suku bangsa dan tradisi yang beragam dan sangat kompleks, kita patut bersyukur karena masih bisa bertahan dalam sebuah keutuhan entitas negara-bangsa. Memasuki dasawarsa kedua abad ke-21, berarti kita sedang membuka gawang tahun ke-67 dalam batang usia kemerdekaan kita yang dinyatakan pada 17 Agustus 1945. Sebagian besar  pendiri bangsa dan negara ini telah mendahului  kita, tetapi ruh mereka pasti berseru agar kita semua tetap tidak melenceng dari cita-cita kemerdekaan yang dengan apik dirumuskan dalam Mukadimah UUD 1945.  Apakah kita sudah melenceng atau  masih berada di jalur yang benar adalah masalah mendasar  yang perlu sama sama di hayati secara  jujur dan saksama. Pada tahun 2012 ini penduduk Indonesia sudah berada pada angka 236 juta lebih sedikit, naik secara tajam dibandingkan dengan tahun 1945 yang hanya 70 juta. Dengan angka ini, Indonesia dicatat sebagai bangsa  terbesar  keempat  sesudah China (1,3 miliar), India (1,1 miliar), dan  Amerika Serikat (308 juta). Brasil (200 juta) bersama  Rusia (sekitar 145 juta)

India, dan China  kini sedang berlomba untuk menjadi raksasa ekonomi dunia di abad ini dengan pertumbuhan yang sangat cepat. Ekonomi Indonesia juga tumbuh sekitar 5,8 persen dengan pendapatan per kepala sekitar 3.100 dollar AS, tetapi lebih banyak didorong oleh perilaku konsumtif masyarakat, bukan oleh keberhasilan sistem ekonomi yang dijalankan. Kantong-kantong kemiskinan kita masih sangat nyata di seluruh tanah air, di kota dan desa.  Gerak ke arah perbaikan berjalan sangat lamban. Tentu disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi bukan karena pembengkakan demografis. Dibandingkan dengan kondisi  akhir  era Orde Baru dengan pendapatan per kepala pada kisaran 1.100 dollar AS, pertumbuhan ekonomi Indonesia sekarang telah meningkat sekitar 250 persen. Masalahnya  tetap saja berkisar pada siapa yang menikmati anugerah pertumbuhan ini. Jawabnya  jelas bukan rakyat  jelata, sebagaimana  yang  dituntut  oleh Pasal 33 UUD 1945 (asli).  Yang diuntungkan tidak lain dari para pembela sistem ekonomi neoliberalisme yang tidak bersahabat dengan rakyat, baik asing maupun agen-agen domestiknya. Karena itu timbul  pendapat yang mengatakan  bahwa pada sisi ekonomi Indonesia tidak lagi berada pada jalur UUD. Jika demikian, bukankah kecenderungan  pasar  bebas  tanpa  kendali ini adalah melenceng dari Mukadimah UUD 1945?  Jika iya maka perlu diluruskan .

Sebagai negara yang menganut  sistem  demokrasi, sekalipun baru pada tingkat prosedural dan seremonial, belum substantif, meluruskan harus dilakukan melalui pematangan  konstitusional. Cobalah pelajari  baik-baik konstitusi asli kita, dengan Pancasila sebagai  tulang  punggungnya, apakah di situ ada tempat bagi sistem ekonomi neoliberal yang memanjakan segelintir orang?  UUD  kita dirancang untuk secepatnya menciptakan sistem kemakmuran  bersama, bukan kemakmuran pihak-pihak kecil yang diuntungkan oleh sistem yang sedang dijalankan. Oleh sebab itu, sudah saatnya para pemikir dan pengelola negara menentukan ke mana arah Indonesia harus melangkah.

Jika Brasil bangga dengan pendapatan per kepala sekarang berkisar 8.040 dollar AS, kebanggaan itu tidak berlebihan. Angka kemiskinan mereka juga  menyusut  secara signifikan. Perlu di cermati  angka- angka statistik yang sering di publikasi pemerintah kita, sementara lautan kemiskinan kita tidak semakin mengecil, apakah sikap itu bukan sebuah kebanggaan semu yang sengaja menutup realitas getir?  Lihatlah nasib sebagian TKI kita yang menyabung nyawa mengais rezeki di negeri orang, karena negara gagal membuka lapangan kerja buat mereka. Julukan pahlawan devisa kepada para TKI sepenuhnya benar, tetapi apakah negara telah memberikan perlindungan kepada mereka yang bernasib  malang dalam upaya menyambung napas di luar tanah airnya? Yang lebih ironis lagi adalah kenyataan bahwa penderitaan berat yang dialami sebagian TKI  justru terjadi di negara-negara Islam, yang se iman dengan mayoritas penduduk kita, tidak di Korea, Hongkong, atau Taiwan.

Masih banyak  pekerjaan rumah (PR) yang terbengkalai. Masalah penegakan hukum yang tebang pilih , sikap pimpinan yang selalu ragu, wabah korupsi yang masih ganas, partai politik yang tidak berpihak kepada rakyat, praktik politik uang yang tunamoral dalam berbagai pemilihan, adalah PR yang sangat mendesak untuk dicarikan jalan keluarnya. Jika tahun ini upaya perbaikan tidak juga terjadi, tidak mustahil demokrasi Indonesia akan berujung dengan sebuah kegagalan. Si Kabayan masih berharap bangsa  ini tidak membiarkan dirinya tetap berada dalam situasi serba tidak pasti, sementara negara-negara lain telah berhasil berbenah diri dengan kekuatan kulturnya masing-masing. 

 

Kini sedang ramai dipertentangkan gagasan neoliberalisme (disingkat neolib) dengan gagasan ekonomi kerakyatan. Bertepatan dengan krisis ekonomi yang melanda Eropa dan  Amerika Serikat, dunia sedang menata kembali perekonomianya. Para pemimpin negara besar dalam G-20 terus berusaha menjinakkan aspek negatif praktek kapitalisme dan liberalisme yang menyebabkan bubble economy, pertumbuhan yang tidak berdasarkan kegiatan ekonomi riil. Beroperasinya lembaga keuangan yang tak terawasi dan menyuburkan spekulasi. Namun, penataan itu  tak mungkin menanggalkan fakta bahwa globalisasi  membuat  interdependensi ekonomi  antarnegara  berlangsung lebih dalam dibandingkan dengan era mana pun dalam sejarah. Keruntuhan komunisme pada akhir 1980-an juga membuat praktek ekonomi berwarna liberal kapitalistik dengan ekonomi yang efisien, produktif, berdaya saing berdasarkan kreativitas individual dalam pasar lebih bebas, dilaksanakan oleh nyaris segenap bangsa di dunia. Negara-negara berkembang yang sedang maju secara fenomenal, seperti India dan China, juga memberlakukan prinsip-prinsip liberal kapitalistik setelah mereformasi perekonomiannya sejak 1978. Majunya negara-negara yang menerapkan liberal kapitalisme, seperti Jepang tahun 1970-an, disusul Korea Selatan dan Taiwan tahun 1980-an, membuka mata elite China pada sistem liberal kapitalisme sebagai alternatif realistis untuk memajukan ekonomi nasionalnya. Dalam perkembangannya, China melakukan privatisasi BUMN, liberalisasi sektor keuangan dan perdagangan, serta deregulasi, hal-hal yang dianjurkan dalam Washington Consensus, yang dirumuskan Presiden Ronald Reagan dan PM Margaret Thatcher awal 1980-an. China menyebut  pencangkokan sistem kapitalisme dalam ekonominya sebagai sosialisme berkarakteristik  China. China melejit pesat menjadi negara paling menarik bagi arus investasi global. Hari ini, 30 tahun lebih setelah reformasi ekonominya, ia tampil sebagai pemain yang diharapkan berperan penting menyelamatkan perekonomian dunia yang dilanda krisis. India yang semula sosialistik  dan tertutup melakukan  pendekatan liberal kapitalistik, mereformasi ekonominya sejak awal 1990-an. Dalam satu dasawarsa terakhir India maju pesat.

Masalahnya, tidak semua bangsa dapat  memetik sukses dalam melakukan reformasi ekonomi dan menjalankan ekonomi  bercorak liberal kapitalistik. Ada bangsa yang dapat maju dan ada yang merosot. Tak ada resep baku bagi setiap bangsa untuk menjalankan sebuah sistem ekonomi nasional dengan corak liberal kapitalisme di dalamnya. Semua tergantung dari kondisi internal tiap negara. Yang menarik, semua negara berkembang Asia yang sukses, menjalankan peran sbg  operator regulator  pasar. Negara ada di atas pasar, melakukan pengaturan dan bentuk-bentuk intervensi dalam perekonomian secara tepat.  Mustahil  pasar bisa mengatur diri sendiri untuk bisa tumbuh harmonis. Kebebasan yang berlebihan di pasar senantiasa mengundang moral hazard; praktek kapitalisme dan liberalisme menghasilkan kompetisi tidak berimbang antara pemodal besar dan kecil, serta hancurnya industri nasional karena gempuran produk impor atau lepasnya mayoritas kepemilikan aset-aset prospektif kepada pihak asing. Contoh cerita sukses kebijakan pemerintah lain;  privatisasi BUMN China dilakukan dengan menjual saham kepada warga China sendiri. Pemerintah China memfasilitasi kegiatan impor besar-besaran produk pangan untuk menimbun stok saat harga komoditas yang tidak bisa diproduksi China itu sedang jatuh dipasaran dunia. Tata, produsen mobil India, memproduksi secara massal  mobil murah setelah Mittal, raksasa baja swasta India, difasilitasi menjadi pemain terbesar dunia dengan mengakuisisi pabrikan baja terbesar Eropa, Arcellor. Dengan demikian, baja yang harus diimpor India untuk membangun mobil nasionalnya diproduksi perusahaan India juga. AS sebagai negara penganut fanatik  sistem liberal kini sibuk menyelamatkan industri nasionalnya dengan menggunakan cadangan devisa berjumlah triliunan dollar AS. Bila AS benar benar begitu liberal, tentu peran negara harus dihindarkan dari kegiatan ekonomi. Namun,kebangkrutan berbagai perusahaan AS atau dikuasai pihak asing bukan hal yang dipilih AS. Apa yang dilakukan China, India, dan AS menunjukkan, diberlakukannya prinsip liberal kapitalisme tidak menghalangi negara untuk membangun kemandirian bangsa yang secara fisik diwujudkan antara lain dalam industri keuangan,  mobil, kereta api, komputer, dan barang elektronik . Kehidupan ekonomi nasional kita ke depan perlu mendapat orientasi baru dan aspek aspek positif liberal kapitalisme perlu diterima sebagai etos ekonomi modern. Ketepatan peran negara dalam ekonomi, seperti dilakukan pemerintah negara-negara di atas, seharusnya menjadi pusat  perdebatan mengenai pengelolaan ekonomi nasional ke depan.

Membicarakan kebijakan ekonomi nasional  tak lepas dari posisi kita sebagai negara berkembang dengan potensi pasar amat besar, penghasil bahan mentah dan agraris, dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan tinggi. Kita harus jujur mengakui, banyak pengaturan  ekonomi negara pada masa lalu hingga kini kurang tepat. Pada masa lalu, BUMN menjadi tempat  penyalahgunaan uang negara. Berapa banyak  BUMN dan BUMD harus terus disuntik modal baru? Kebijakan tataniaga yang hanya menghasilkan monopoly, kehadiran BPPC justru menghancurkan pertanian cengkeh. Menaikkan pajak ekspor CPO saat harga dunia sedang naik merugikan petani. Kebijakan pajak atas impor produk  jadi yang lebih rendah dari impor komponen menghancurkan industri dalam negeri. Kebijakan yang tidak mewajibkan eksportir menyimpan devisa di perbankan nasional yg ternyata keliru. Kepiawaian pemerintah menggunakan kekuasaan negara atas pasar adalah hal yang kita perlukan. Dilakoni oleh pengelola yang bersih sejernihnya dari KKN. 

Si Kabayan masih  berharap bahwa dari para pengelola negara muncul pikiran segar untuk membangun bangsa mandiri dengan kebijakan ekonomi guna mempercepat kesejahteraan rakyat. Para investor hendaknya tidak membuat rakyat tereksploitasi. Kemandirian itu penting dan orientasi kerakyatan berarti memperkuat  basis ekonomi di masyarakat  bawah dengan memberikan peluang memiliki aset-aset  produktif untuk meningkatkan penghasilan. Kita memerlukan modal asing untuk memperkuat pilar ekonomi. Tetapi, bukan di jenis usaha seperti  tambang batubara yang open pit dan captive market  atau di perbankan dan telekomunikasi yang berpengaruh besar pada kestabilan ekonomi dan keamanan. Untuk jenis usaha yang capital intensive silakan perusahaan macam Freeport dan Newmont berkiprah selama adil bagi negara, daerah, dan masyarakat setempat. Pembatasan peran asing di pasar modal  perlu dipertimbangkan karena potensi bahaya hot money akibat derasnya arus keluar masuknya dana yang seketika dapat merontokan pasar.

Sebenarnya, baik unsur ekonomi  kerakyatan maupun ekonomi liberal kapitalistik diperlukan untuk membangun negara, tetapi secara proporsional  dengan takaran yang pas.

 

Si Kabayan pun terbangun dari lamunannya dengan senyum dikulum..

 

 

Cipinang Agustus 2012

 

.