Pelajaran Berharga dari Kasus Bank Mandiri

Oleh Antonius Sujata

BARANGKALI tidak ada yang lebih spektakuler dari proses peradilan kasus Bank Mandiri, yang melibatkan Direktur Utama PT Bank Mandiri, ECW Neloe dan kawan-kawan serta Direktur Utama PT Cipta Graha Nusantara (PT CGN) atas nama Edison Cs yang mengelola Hotel Tiara Medan.

Siapa menyangka para eksekutif tersebut tiba-tiba saja terkena jerat hukum, meringkuk dalam tahanan kemudian dilakukan penuntutan. Sebelumnya banyak memuji kinerja Bank Mandiri sebagai bank plat merah terbesar dengan pertumbuhan aset serta keuntungan yang memperoleh acungan jempol. Sementara itu, Hotel Tiara adalah salah satu hotel bergengsi dengan tingkat hunian tinggi di Medan harus menghadapi permasalahan besar.

Pemberian kredit oleh Bank Mandiri kepada PT CGN dianggap oleh institusi Kejaksaan sebagai tindak pidana korupsi. Segala upaya untuk meyakinkan penyidik bahwa mereka tidak melakukan kejahatan, sia-sia. Yang terjadi kemudian adalah gegap gempita karena untuk pertama kalinya seorang direktur utama bank milik negara bersama eksekutifnya, serta direksi puncak debitor PT CGN dilakukan penahanan selama hampir setahun.

Sejak waktu awal pemeriksaan, baik Bank Mandiri maupun PT CGN sama-sama menyatakan bahwa mereka tidak memiliki permasalahan apapun dengan kredit yang diberikan. Semua ini berawal dari audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Suasana pemberantasan korupsi yang sedang marak telah menenggelamkan opini upaya membela diri sehingga pemberitaan yang ditampilkan lebih nyaring dari pada pembelaan para pelaku yang dituduh korupsi.

Harapan

Para eksekutif yang sehari-hari berpenampilan parlente dengan dasi dan biasa ke luar masuk restoran, tiba-tiba harus menghadapi pemeriksaan maraton, menjadi penghuni ruang tahanan pengap, meninggalkan anak istri, dan lebih dari itu tidak dapat mengerjakan pekerjaan rutin bahkan terancam kehilangan pekerjaan. Semua sorot mata tertuju pada mereka. Tuduhan sebagai koruptor yang harus dihukum berat tentu memberi beban luar biasa.

Kenyataan menjadi semakin gelap ketika para mantan Direksi Bank Mandiri dituntut hukuman 20 tahun dan Edison serta kawan-kawan dituntut hukuman 17 tahun pidana penjara. Tuntutan tersebut jauh lebih berat dari yang diperkirakan. Bahkan dalam proses ini muncul pula kejutan ketika Jaksa Penuntut Umum mengajukan tuntutan pidana hanya sehari setelah selesai pemeriksaan. Persidangan.

Pembacaan tuntutan pidana yang supercepat tersebut menimbulkan asumsi bahwa jauh hari ketika sidang masih berjalan dan pemeriksaan para saksi serta terdakwa belum selesai, rencana tuntutan (Rentut) telah disampaikan kepada Jaksa Agung RI secara berjenjang melalui Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Penyampaian Rentut kepada Jaksa Agung RI sebelum waktunya tersebut memberi kesan sikap apriori, juga kurang menghargai asas praduga tak bersalah.

Dalam keputusasaan tersebut, tentu masuk akal apabila para tersangka berkali-kali menyatakan agar peradilan tetap dilandasi Ketuhanan Yang Maha Esa serta bisikan hati nurani. Para terdakwa merasa menjadi korban dan dikorbankan atas nama pemberantasan korupsi. Mereka berharap agar hukum tidak menjadi alat untuk menzalimi ciptaan Allah, dan proses peradilan tidak menuju ke arah yang sesat. Rupanya mereka berupaya mengetuk pintu hati para hakim bukan melalui teori-teori hukum akan tetapi melalui tatanan nilai yang jauh lebih tinggi dari hukum.

Keadilan Tidak Gentar

Dalam kondisi di bawah tekanan serta opini publik untuk menghukum berat para terdakwa sebagai pelaku korupsi ternyata Majelis Hakim justru memiliki keberanian membebaskan mereka. Di padang gurun Arabah Nabi Musa pernah berkata : In rendering judgement, not consider who a person is, give ear to the lowly and to the great alike, fearing no man, for judgement is God’s (Dalam mengadili jangan pandang bulu, dengarkan orang-orang kecil dan orang-orang besar, jangan gentar terhadap siapapun, pengadilan adalah milik Tuhan). Tentu saja keberanian para hakim ini menimbulkan reaksi, misalnya tudingan bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Selatan merupakan kuburan bagi mereka yang anti korupsi, Hakim akan dilaporkan ke Komisi Yudisial, Hakim yang dissenting opinion (berbeda pendapat) lebih banyak diekspos dari pada pertimbangan yang membebaskan. Reaksi emosional atas putusan pembebasan lebih dominan daripada reaksi rasional.

Makna Tindak Pidana Korupsi adalah perbuatan memperkaya diri sendiri secara melawan hukum serta merugikan keuangan negara ataupun menyalahgunakan kekuasaan dengan merugikan negara.

Apabila salah satu unsur saja tidak ada maka para terdakwa dibebaskan. Dalam kasus Bank Mandiri para terdakwa diputus bebas (vrijspraak), artinya perbuatan materiel yang didakwakan terhadap para pelaku tidak terbukti. Sekurang-kurangnya ada 5 substansi yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan apakah perbuatan yang dilakukan para terdakwa merupakan tindak pidana korupsi :

Pertama, perjanjian kredit antara Bank Mandiri (sebesar Rp 160 miliar) baru jatuh tempo pada tahun 2007. Dengan kata lain kredit tersebut masih berjalan sampai saat menjadi perkara.

Kedua, selama itu tidak ada permasalahan antara bank dengan debitor.

CGN selalu membayar hutang pokok berikut bunga. Dengan kata lain tidak ada kerugian negara, bahkan dari angsuran tersebut Bank Mandiri memperoleh keuntungan.

Ketiga, jaminan utang berupa tanah serta bangunan kompleks Hotel Tiara lebih dari cukup untuk menutup pinjaman apabila terjadi kemacetan utang, pinjaman pun tergolong lancar.

Keempat, persoalan justru terjadi ketika urusan kredit ini ditangani penegak hukum karena Direksi PT CGN ditahan sehingga manajemen operasional Hotel Tiara kocar kacir.

Kelima, citra Hotel Tiara menjadi redup setelah pengelolanya ditahan dan hotelnya dilakukan penyitaan sehingga tentunya mempengaruhi tingkat hunian.

Keenam, kalaupun terjadi permasalahan antara debitor dan kreditor maka hal tersebut merupakan sengketa hutang piutang yang masuk jurisdiksi peradilan perdata.

Kontra Produktif

Penegakan hukum yang tidak mempertimbangkan aspek-aspek lain seperti investasi, sosial kemasyarakatan, bahkan juga program pemulihan ekonomi akan sangat merugikan banyak pihak, apalagi jika penegakan hukum tersebut tidak dipersiapkan dengan baik sehingga oleh pengadilan diputus bebas.

Pemberantasan korupsi yang dilakukan secara gegabah, tidak hati-hati serta kurang profesional dapat menimbulkan efek negatif. Proses penegakan hukum tentunya dimaksudkan untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif serta berkeadilan. Penegakan hukum demi penegakan hukum bukan membuat orang jera akan tetapi menimbulkan suasana was-was dan juga sikap apatis. Adalah logis bila kasus Bank Mandiri ini membuat para bankir plat merah dan para nasabahnya merasa khawatir.

Atas putusan Pengadilan yang membebaskan para terdakwa menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Jaksa Penuntut Umum tidak dapat melakukan banding (Pasal 67 KUHAP) ataupun mengajukan upaya kasasi (Pasal 244 KUHAP).

Namun dalam praktik, sebagaimana ternyata pada kasus ini Jaksa Penuntut Umum tetap mengajukan kasasi. Alasan yang digunakan Penuntut adalah menyatakan bahwa putusan bebas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut seharusnya dibaca serta berbunyi “lepas dari segala tuntutan hukum” sehingga dapat dilakukan permohonan kasasi, karena yang tidak diperkenankan dalam Kasasi adalah putusan bebas.

Ketika Jaksa mengajukan kasasi maka proses masih terus berjalan. Apa pun putusannya, keadilan, hati nurani dan juga keberanian untuk menghadirkan keadilan tetap menjadi harapan meskipun sering kali suara untuk menghukum lebih lantang dari suara untuk membebaskan, padahal tujuannya adalah keadilan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kasus Bank Mandiri memberi banyak pelajaran bahwa keadilan itu harus dilandasi integritas, profesionalisme, serta penghormatan kepada setiap insan manusia. Lebih dari itu, pada hakikatnya keadilan selalu melekat pada iman, keberanian serta hati nurani. *

Penulis adalah Ketua Komisi Ombudsman Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s