Nasib rupiah ditangan Bank dan Investor Asing.


bailout
Oleh ; Pablo Adnan

Mengikuti perkembangan rupiah selama beberapa bulan terakhir ini mengingatkan saya kepada krisis moneter 97-98 yang dialami Indonesia , Krisis yang awalnya dianggap sebagai pencarian titik equilibrium nilai rupiah terhadap USD karena sistim managed float yang di anut ketika itu , menjelma menjadi financial nightmare yg menghancur luluhkan industri perbankan kita. Krisis moneter 1998 yg melanda Asia diawali oleh jatuhnya nilai mata uang Bath terhadap USD di awal July 97, kemudian bagaikan wabah penyakit menular. semua mata uang dikawasan Asia Tenggara mengalami hal yang sama , terpuruk nilainya secara tajam terhadap USD. Mata uang rupiah adalah yg paling parah. Nilainya terhadap USD merosot dari Rp 2850 menjadi Rp 14000 per USD kemudian bertengger di Rp.12000 untuk beberapa saat.
Padahal masih segar dalam ingatan saya pada kwartal pertama thn 1997 kawasan Asean plus masih dianggap sbg Asian Tiger Economic dimana Indonesia masih disanjung oleh bankir dan investor asing dengan julukan macan Asia. Bagai mana bisa sang macan asia dalam sekejap kemudian menjadi ayam sayur begitu parah nya sampai tidak ada satupun bank diluar negeri yg mau menegosiasi Letter of Crédit yg diterbitkan oleh Bank Swasta dan Bank milik Pemerintah Indonesia, kecuali LC tsb di confirm oleh Bank Asing terkemuka. Melihat dan mengalami peristiwa ini jiwa merah putih anak bangsa pasti terusik. Memangnya ada kejadian apa dalam kurun waktu 3 bulan di thn 1997? Indonesia yang menjadi primadona para Investment Bankers asing masih di sanjung sebagai macan Asia, tiba tiba , dalam hitungan bulan diperlakukan seperti Negara tak berdaulat , sampai seorang Wakil Direktur IMF dapat memerintah menteri dan mendikte presiden seolah negeri ini milik nenek moyangnya.
Tidak ada peristiwa yg significant di dalam negeri yang dapat memantik aksi jual rupiah sampai terpuruk secara ekstrim . Secara external saat itu pasar valas di Singapore Hongkong dan Tokyo sedang ramai dengan aksi jual besar2an mata uang Malaysian Ringgit dan Thai Bath .
Teringat obrolan saya dengan seorang investment banker asing yang berupaya meyakinkan saya bahwa rupiah akan aman “ don’t worry “ katanya its like the western movie The Good The Bad and The Ugly. Indonesia is the good , Malaysia is the Bad and Thailand is the Ugly… Kenyataanya rupiahlah yang paling besar ter depresiasi sampai 5x lipat. Dengan cepat krisis moneter pun berubah menjadi krisis ekonomi keuangan dan perbankan .
Penyelamatan industri perbankan Indonesia telah menelan biaya sampai rp. 650triliun melalui penerbitan obligasi rekap dimana sampai hari ini dan 10 tahun kedepan rakyat masih akan menanggung bunga dan pengembalian pokok sebesar rp. 60T per tahun . Melalui APBN

Banyak sudah litreratur dan tulisan para pakar tentang penyebab terjadinya krisis moneter 98, mulai dari bubble burst , non prudential banking practice, moral hazard, rupiah over value dan lain sebagainya. Semua ulasan dan pendapat tentunya after the fact,at the benefit of hind sight.
Saya berfikir mengapa begitu mudahnya invisible hands dibalik bank bank luar negeri dan investor asing menaikan ke panggung negara negara dengan predikat sebagai the new emerging market untuk kemudian di runtuhkan berikut hasil pembangunan selama 30 tahun.
Kalau menurut saya penyebab krisis moneter yang berakhir dengan krisis keuangan dan perbankan hanya satu kata yaitu GLOBALISASI.
Globalisasi dengan segala kebebasan yang terkait dengan istilah itu seperti membiarkan kepada mekanisme pasar dan free flow of capital bukanlah arena tempat kita bermain. Krisis moneter 98 telah membuktikan itu. Indonesia termasuk dalam kelas new emerging market dan mata uang rupiah masih dalam kelas non convirtable currency, kedudukannya akan selalu inferior terhadap Investment Bank asing dan investor asing yang menguasai pasar .

Industri keuangan dan perbankan secara global di kuasai oleh 2 profesi yaitu ekonom dan trader. Keduanya mempunyai persepsi yang sangat berbeda mengenai Pasar Uang dan Pasar Modal. Economist mengatakan bahwa harga yg terjadi di pasar adalah harga yang benar karena terjadi akibat supply and demand dan persinggungan curva supply dan demand merefleksikan harga yang benar karena didukung oleh data fundamental . Sedangkan trader mempunyai filosofi bahwa harga yg ter jadi di pasar seringkali salah masih terdapat selisih yang cukup besar antara harga pasar dengan hitungan harga sesungguhnya dan sebagai trader berupaya untuk mencari untung dari kesalahan tersebut. Fundamental ekonomi tidak penting , traders lebih condong kepada faktor psychology likuiditas dan faktor non fundamental lainnya.
Jenis manusia macam inilah yang kita hadapi dipasar.

Tekanan terhadap rupiah
Melemahnya rupiah terhadap dollar belakangan ini disebabkan oleh fundamental ekonomi yang kurang baik dimana trade deficit membengkak menjadi $2,3 milyar deficit terbesar sepanjang sejarah republik , Current Account deficit mencapai $ 9milyar dan cadangan devisa tergerus sebanyak $20milyar menjadi $92 milyar. Cadangan devisa sebesar $20 milyar dipakai oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilisasi nilai rupiah terhadap dollar melalui berbagai macam intervensi sejak January 2013, tidak dijelaskan methode intervensi BI seperti apa karena untuk mata uang rupiah ada harga resmi JISDOR ( Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) yang dikeluarkan oleh BI dan ada harga NDF (Non Delivered Forward) rupiah offshore yang menjadi acuan bagi bank asing dan investor asing.
BI telah gagal mempertahankan kurs pada level rp 9500 , nyatanya kurs hari ini sudah rp 11000 lebih walaupun telah menghabiskan cadangan devisa sebanyak $20 milyar.

Kesulitan Bank Indonesia menjaga stabilitas Rupiah

Pasca Krismon 98 BI mengeluarkan kebijakan yang membatasi akses bank offshore dan non resident kepada pasar spot local (onshore) rupiah termasuk peraturan yang melarang Bank Lokal memberikan kredit rupiah kepada nasabah bukan penduduk (non resident). Secara teori, menutup sumber rupiah bagi Bank Offshore dan non resident akan mengurangi kemungkinan mata uang rupiah menjadi komoditi spekulasi oleh bank dan trader asing.
Peraturan ini dikeluarkan oleh karena antara thn 1999 – 2000 banyak bank asing di Singapore yang menawarkan produk deposito berjangka dalam mata uang rupiah dengan bunga yang lebih tinggi dari deposito serupa di Jakarta. Selain deposito mereka juga menawarkan produk pinjaman dalam mata uang rupiah. Bank bank tersebut dapat menawarkan produk dalam rupiah oleh karena mempunyai akses kepada mata uang rupiah melalui cabangnya di jakarta dan rupiah dari para nasabahnya. Inilah yang dikenal sebagai offshore rupiah. Terminologi dari offshore rupiah adalah rupiah yang di miliki oleh non resident ( bukan penduduk)
Dapat dibayangkan jika BI tidak membatasi akses kepada rupiah atau kepemilikan rupiah secara fisik oleh bank bank dan invesor offshore, maka akan terjadi proses internasionalisasi mata uang rupiah . Rupiah akan menjadi komoditi untuk spekulasi dan Bank Indonesia selaku otoritas moneter tidak dapat melakukan fungsi kontrol dan pengawasan oleh karena segala pembukuan dan terjadinya transaksi adalah diluar Indonesia ( offshore )

Non Delivery Forward (NDF) contract.
Oleh karena adanya peraturan Bank Indonesia tersebut diatas, bank asing yang beroperasi di Singapore seperti UBS, Citigoup, Deutche Bank, Morgan Stanley menawarkan produk derivatif Non Delivery Forward contract .
Non Delivery Forward (NDF) contract adalah kontrak berjangka antara dua mata uang untuk membeli atau menjual pada waktu yang telah disepakati dengan kurs yg telah ditentukan pada saat kontrak dibuat. Dalam NDF tidak terjadi pertukaran fisik valuta saat settlement date, yg diserahkan atau diterima hanya selisih antara kurs saat kontrak dibuat dng kurs (fixing) yg disepakati.
Instrumen foreign exchange ini lazimnya terjadi antara mata uang USD dng mata uang yg dikategorikan sebagai non convertible currency. Sejatinya instrumen ini diciptakan untuk memfasilitasi hedging bagi dunia usaha yg mempunyai exposure dalam non convertible currency. Dengan demikian setiap NDF yg diterbitkan mempunyai keterkaitan underlying transaction .

Pasar NDF offshore Asia berkembang sangat pesat dalam mata uang negara2 asia kecuali sin$, yen dan Hkg$. Jumlah yang terbesar adalah NDF rupiah dimana volume perdagangan mencapai $ 1milyar per hari.

NDF Rupiah (IDR) diperdagangkan dalam jumlah yang besar di Singapura dan sejumlah kecil di Hong Kong dan New York. Kebutuhan untuk melakukan hedging instrument Rupiah merupakan salah satu alasan diperdagangkannya NDF Rupiah. Alasan lain adalah tipisnya pasar on-shore forward dollar terhadap rupiah yang mendorong kebanyakan investor mencari perlindungan instrument pada pasar offshore. Tidak tertutup kemungkinan banyak spekulan bermain di pasar ini, karena statusnya offshore maka diluar jangkauan yuridis Bank Indonesia.
Keberadaan pasar NDF rupiah offshore di Singapore tentunya berpengaruh terhadap perkembangan kurs rupiah terhadap USD karena penentuan kurs pada saat jatuh tempo tidak mengacu kepada kurs spot onshore yang berlaku yg di keluarkan oleh BI. Melainkan hasil fixing oleh panel beranggotakan 5 bank di Singapore, Alasan yang dikemukakan oleh otoritas moneter di Singapore adalah karena pasar dollar/rupiah forward onshore volumenya jauh lebih kecil dari pasar NDF rupiah offshore. Tidak banyak upaya yg dilakukan oleh BI untuk menghadang berkembangnya pasar NDF offshore kecuali melarang bank bank lokal untuk bertransaksi dlm NDF rupiah offshore.

Baru Pada bulan Mei 2013 lalu BI mengeluarkan JISDOR ( Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) sebagai acuan resmi kurs spot dolar rupiah, dengan harapan menjadi acuan juga bagi pasar NDF rupiah offshore sehingga tidak terdapat 2 quotation harga .

Seharusnya Bank Indonesia menyadari dari awal bahwa keberadaan pasar NDF rupiah offshore merupakan ancaman bagi stabilitas kurs rupiah terhadap dollar, pasar ini tercipta di tahun 1999, akan tetapi BI tidak menanggapi secara serious . Fakta bahwa sejak awal pasar NDF tidak mengacu kepada kurs spot onshore seharus nya ditanggapi secara serius, buktinya baru bulan Mei thn 2013 BI mengeluarkan secara resmi JISDOR yang diharapkan menjadi acuan kurs bagi dunia internasional. BI tidak punya kewenangan terhadap NDF rupiah offshore karena berada diluar Indonesia. Fakta dipasar memberi gambaran pihak yang meramaikan perdagangan NDF rupiah offshore hampir semua merupakan investor asing yang berinvestasi di Indonesia mereka melakukan hedging atas investasi rupiahnya di Indonesia. Kenapa BI selaku otoritas moneter tidak dapat memfasilitasi mereka sehingga mereka harus lari ke pasar offshore . Hedging adalah transaksi yang umum dilakukan oleh investor yang melakukan cross currency investment.
Barangkali jika jumlah $20 milyar dari cadangan devisa yg telah digunakan oleh BI untuk intervensi yang tidak jelas, dipakai untuk memfasilitasi investor hedging nilai rupiah exposurenya, mungkin saja tekanan terhadap rupiah akan jauh berkurang dan kurs masih tetap di 9500.

Barangkali inilah satnya kita berfikir kembali untuk meninggalkan sistim ekonomi yang kita anut sekarang yang tunduk kepada mekanisme pasar dan membiarkan free flow of capital. Mekanisme pasar hanya berpihak kepada kekuatan modal dan likwiditas . Free flow of capital menciptakan ketidak pastian karena arus modal dapat keluar masuk tanpa batasan. Pengalaman krismon 98 mengajarkan kepada kita bagaimana sekelompok trader dapat membuat suatu negara yang berdaulat penuh tunduk tanpa syarat . Krisis sub prime mortgage di Amerika telah memicu krisis keuangan global 2008 , sampai pemerintah Amerika pun perlu membail out sejumlah $ 800 milyar untuk menyelamatkan perbankan dan wall street. Sudah menjadi kenyataan di Indonesia bahwa sistim ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja sementara banyak rakyat yang masih hidup dibawah garis kemiskinan.
Dengan jumlah penduduk no 3 terbesar didunia , sumber daya alam yang ada serta luasnya tanah produktif yang tersedia merupakan potensi ekonomi Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain. Apakah pemerintah yang akan datang mempunyai keberanian untuk beralih kepada sistim ala RI?
Marilah kita tunggu….terpilihnya Presiden baru yang mempunyai visi kedepan untuk memakmurkan rakyat dan dapat menciptakan Globalisasi ala Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s