Terpuruknya Rupiah


Kurs rupiah thd dollar terus merosot, dan alasan yg dikemukakan Menkeu adalah rumor bahwa Quantitative Easing yg dilakukan Fed selama ini akan berkurang atau dihentikan. Tentunya banyak yg bertanya apa itu Quantitative Easing ( QE) . Singkatnya QE adalah suatu kebijakan moneter yg digunakan oleh Bank Sentral dengan cara membeli obligasi, surat berharga bank komersil maupun Institusi Keuangan lain dengan tujuan menambah likuiditas ke pasar dengan demikian meningkatkan monetary base thus merupakan stimulus bagi ekonomi setempat. Sejak krisis keuangan 2008. Bank Sentral Amerika. Mengimplementasikan QE dengan membeli berbagai macam instrumen keuangan sebesar $85 milyar setiap bulannya. Inilah yg menjadi stimulus bagi perekonomian Amerika terutama pasar modal, Dow Jones dan SP 500 index mencapai titik tertinggi sejak 2007 akibat dari QE.

Nah kembali kepada terpuruknya rupiah, apakah ini alasannya? Menurut hemat saya tidak, bahkan terlalu jauh mikirnya, pada waktu krisis keuangan 2008 saja kurs rupiah thd dollar aman2 saja.Meskipun menteri keuangan ketika itu Sri Mulyani mengeluarkan 10 jurus untuk menangkal imbas krisis keuangan global 2008 yang mana hampir semua jurus berkaitan dengan foreign exchange atau kurs rupiah thd dollar ketimbang masalah likuiditas dan krisis perbankan, Nyatanya tidak terjadi apa apa bahkan kala itu kurs rupiah sedikit menguat thd dollar.

 

Marilah kita lihat alasan yg sesungguhnya kenapa rupiah sampai terpuruk thd dollar bukan alasan yg absurd seperti issue mengenai Quantitative Easing, atau statement bahwa bukan rupiah yg melemah tapi dollar yg menguat terhadap semua mata uang. Barangkali pejabat tsb tidak tau bahwa mata uang China Yuan pada pertengahan Agustus 2013 menguat 6.1192 thd US$ atau tingkat tertinggi selama kurun waktu 19 tahun.

Komentar semacam ini menggambarkan bahwa pemerintah kita selalu “in denial” terhadap fakta yg negative sehingga course of action untuk memperbaiki keadaan menjadi tidak tepat bahkan counter productive. Let’s be truthful to the people for once.

 

Fundamental

Neraca Perdagangan kita secara kumulatif defisit $5,6 milyar, selama 7 bulan suatu jumlah  terbesar sepanjang sejarah republik ini berdiri. Berpotensi untuk meningkat menjadi $ 9milyar.

 

Devisa kita tergerus dari $112 milyar per Desember 2012 menjadi $92 milyar di bulan July 2013. Atau menurun sebesar $20 milyar. Sebagian besar dari cadangan digunakan untuk menopang kurs rupiah thd dollar yg mengalami tekanan sejak Januari 2013. BI telah membuang $19 miliar untuk melakukan  intervensi selama 7 bulan, suatu upaya yang sia sia karena nyatanya hari ini kurs telah mencapai lebih dari Rp 11ribu.

Methode intervensi macam apa yg BI gunakan untuk menopang kurs rupiah? Ini perlu diteliti lebih lanjut. Karena pasar onshore secara relatif dalam pengawasan BI. Yang diluar yurisdiksi BI adalah pasar offshore dimana para spekulan bermain menggunakan bank di Hongkong dan Singapore melalui produk derivatif NDF atau Non Deliverable Forward.

Internasionalisasi Rupiah.

 

Sudah sejak lama upaya untuk internasionalisasi mata uang rupiah dilakukan oleh bank bank di Singapore dan Hongkong. Karena rupiah sifatnya volatile dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, Oleh sebab itu BI mengeluarkan aturan membatasi offshore rupiah, atau mata uang rupiah yg dimiliki oleh non resident. Namun demikian para trader tidak kehilangan akal. Mereka menciptakan suatu produk derivatif. Yaitu Non Deliverable Forward. Produk semacam ini biasanya di buat bagi mata uang Negara yang menganut Exchange Control,

Jika dengan $19milyar BI telah gagal untuk menopang kurs pada kisaran 9000- 10000 maka untuk mencegah jatuhnya rupiah lebih dalam lagi pemerintah dan Bank Indonesia perlu untuk lebih tegas lagi dalam melakukan pengawasan terhadap offshore rupiah dan transaksi derivatif yg berhubungan dengan itu seperti NDF. NDF diperdagangkan di Singapore dan Hongkong oleh bank setempat bersama para traders dan spekulan dengan volume mencapai $700 juta per hari. Patut diduga bahwa tidak sedikit para spekulan yg berasal dari Indonesia sendiri yg bermain, seperti di thn 2008 untuk produk derivatif “carry trade” ternyata banyak pemain perusahaan Indonesia termasuk BUMN yg bermain, dan merugi ketika kurs yen jatuh terhadap US$.

Ada kejanggalan dalam transaksi NDF bahwa kurs (fixing) untuk settlement dari suatu transaksi rupiah forward ditentukan oleh bank bank di Singapore. Bukan oleh kurs BI yg berlaku onshore di Jakarta. Ini memberi kesan bahwa bank2 tsb mempunyai akses ke sumber dana rupiah melalui nasabahnya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s