Dosa’ Apa Neloe?


Dosa’ Apa Neloe?
Kasasi Neloe dkk
Budi Supriyantoro
ENTAH memiliki ”dosa” apa Edward Cornelis William Neloe, sehingga aparat hukum bernafsu untuk menjebloskannya ke bui. Ketika mantan Dirut Bank Mandiri itu dibebaskan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Februari 2006, dalam kasus pemberian kredit kepada PT Cipta Graha Nusantara (CGN) sebesar Rp 160 miliar, kejaksaan segera membidiknya dengan tuduhan baru.
Bersama kedua rekannya yang sama-sama diadili dalam perkara CGN, I Wayan Pugeg (mantan Direktur Risk Management Bank Mandiri) dan M. Sholeh Tasripan (mantan EVP Coordinator Corporate & Government Bank Mandiri), April silam ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengambilalihan kredit PT Kiani Kertas di Bank Mandiri senilai US$ 201,1 juta. Pada bulan yang sama, Neloe juga ditetapkan sebagai tersangka oleh Badan Reserse Kriminal Polri. Ia dituduh terlibat kasus pencucian uang. Itu karena kepolisian menemukan rekening senilai US$ 5,3 juta di sebuah bank di Swiss atas nama Neloe. Dalam perkara tersebut, Neloe dijerat dengan UU No. 25 Tahun 2003 tentang Pencucian Uang.
Toh, tampaknya Neloe tak perlu lagi melanjutkan urusannya dengan kasus kredit Kiani dan pencucian uang di Swiss itu. Kamis pekan lalu Mahkamah Agung (MA) telah mengabulkan kasasi jaksa dalam perkara CGN. ECW Neloe, I Wayan Pugeg, dan M. Sholeh Tasripan, masing-masing dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp 500 juta atau subsider 6 bulan kurungan. Dan keesokan harinya, mereka bertiga langsung dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.
Sekadar mengingatkan, dalam putusan sebelumnya, majelis hakim PN Jakarta Selatan yang dipimpin Gatot Suharnoto dengan anggoa I Ketut Manika dan Machmud Hopin telah membebaskan ketiga terdakwa. Mereka yang didakwa melanggar UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi itu, menurut majelis, tidak terbukti merugikan negara maupun memperkaya diri sendiri atau korporasi.
Atas putusan itu, Jaksa Baringin Sianturi yang kala itu menuntut 20 tahun penjara langsung mengajukan kasasi. Jaksa beranggapan perbuatan para terdakwa telah melawan hukum, karena menyalurkan kredit tanpa ikatan agunan. Menurutnya, perbuatan itu menyimpang dari standar operasi PT Bank Mandiri. Lagi pula, pengucuran kredit tersebut dilakukan dalam tempo yang tidak wajar, yakni sehari.
Kisah ini diawali dari berdarah-darahnya PT Tahta Medan (bagian dari grup Domba Mas) akibat usahanya terus merugi. Di tambah lagi, perusahaan pengelola Hotel Tiara Medan ini juga memiliki utang US$ 31 juta ke BCA. Sementara modalnya sudah negatif Rp 121,6 miliar (per akhir 2001).
Kondisi ini jelas berpotensi mendatangkan kerugian yang lebih besar lagi. Maklum, 33,65% saham Tahta dikuasai oleh PT Pengelola Investama Mandiri (PT PIM) dan sisanya yang 66,35% dimiliki Dana Pensiun Mandiri. Itu sebabnya, Bank Mandiri berupaya membeli kembali Tahta dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Namun, apa daya, tawarannya kalah oleh yang diajukan CGN.
Setelah berunding, pada 24 Oktober 2002, Bank Mandiri sepakat untuk membiayai pembelian hak tagih CGN kepada BPPN. Kesepakatan itu direalisasikan dalam bentuk penyaluran dana talangan atau bridging loan (BL) pada 28 Oktober 2002. Sementara kredit investasinya—yang kemudian dipakai melunasi BL tadi—baru dicairkan pada 28 Januari 2003 atau 3,5 bulan sejak persetujuan pembiayaan diteken. ”Jadi, tidak benar kalau disebutkan kredit itu cair dalam sehari,” kata ECW Neloe beberapa hari sebelum ditahan Kejaksaan Agung.
Banyak hal positif yang dihasilkan dari proses divestasi Tahta Medan. Salah satunya, proses rescheduling atau penjadwalan kembali utang yang menjadi tanggungan perusahaan itu menjadi berjalan lancar. Bahkan, CGN yang telah berubah statusnya menjadi pemegang saham di Tahta Medan telah sanggup membayar bunga dan provisi yang menjadi kewajibannya senilai Rp 30 miliar. Selain itu, kabarnya, cicilan pertama sebesar US$ 150 ribu—sejak dilakukan rescheduling—telah pula dibayarkan.
Lebih dari itu, semasa Neloe masih menjadi nakhoda Bank Mandiri, sudah ada beberapa investor yang berminat untuk mengambil alih perusahaan itu. Sehingga, kalau transaksi itu terjadi, maka Mandiri sebagai bank tidak akan mengalami kerugian apa pun. Jangan salah, kalau kredit BPPN itu jatuh ke tangan pihak lain yang tidak mau bekerja sama, anak perusahaan Bank Mandiri (PT PIM) dan Dana Pensiun Mandiri itu mesti membayar utang US$ 31 juta atau sekitar Rp 310 miliar. Dan ini yang penting, langkah-langkah yang diambil Neloe itu, secara legal, juga telah disetujui rapat umum pemegang saham (RUPS) yang berlangsung 16 Mei 2005.

DI MANA UNSUR KERUGIAN NEGARANYA?
Toh, pandangan bankir sungguh berbeda dengan penilaian jaksa. Para penuntut itu tetap menganggap telah ada beberapa prosedur kredit yang dilanggar oleh para direksi. Intinya, jaksa menilai kredit tersebut dikucurkan, ”Tidak berdasarkan pada penilaian yang jujur, obyektif, cermat, dan saksama”. Itu karena nota analisis kredit dibuat dalam tempo yang tidak wajar, yakni hanya sehari.
Nah, rupanya MA sependapat dengan pandangan jaksa. Dan tentu saja Neloe dkk kecewa dengan vonis itu. Apalagi kata Yan Juanda Saputra, kuasa hukum Neloe, dalam putusan PN Jakarta Selatan sebelumnya, telah dinyatakan tidak ada unsur kerugian negara. ”Jadi, di mana unsur perbuatannya,” tegasnya.
Yan tak asal omong. Kredit investasi yang disalurkan ke CGN yang disebut-sebut merugikan negara memang telah lunas. Betul, di sisi lain memang timbul tagihan kepada PT Tahta Medan sebesar US$ 18,5 juta. Tapi, itu pun tidak tergolong sebagai kredit macet. Bahkan, menurut sebuah dokumen, per 27 Mei 2005, kredit yang semula digembar-gemborkan sebagai non performing loan alias NPL itu malah termasuk ke dalam kategori lancar alias kolektibilitas 01.
Singkat kata, kalaupun akhirnya MA menolak kasasi yang diajukan jaksa, bisa jadi Neloe pihak Gedung Bundar maupun Mabes Polri segera meringkus Neloe dengan jerat pengambilalihan kredit Kiani Kertas dan pencucian uang tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s