Pasar Rupiah Dollar


KOMPAS – Minggu, 18 Jan 1998

Redaksi Yth

PASAR RUPIAH DAN DOLLAR

Kenaikan dollar sampai tingkat Rp 10.000 tanggal 8 Januari 1998 lebih menggambarkan tingkat kepanikan ketimbang harga riil. Kurs yang sempat ada di tingkat Rp 5.000 pada tanggal 30 dan 31 Desember 1997, adalah suatu bukti nyata bahwa pasar rupiah/dollar didikte pasar offshore.

Kenaikan kurs menjadi Rp 6.000 dan seterusnya sampai Rp 10.000 dari 5 Januari 1998 (selesai liburan) diawali harga yang dibuka pasar Singapura Senin pagi, diteruskan oleh London dan New York sampai ke tingkat Rp 10.000.

Pada saat surat ini dibuat (8 Januari pukul 23.00 WIB) kurs di New York yang di-quote CNBC adalah Rp 10.700 – Rp 11.700. Celakanya harga semu yang dilempar para traders offshore telah dapat menciptakan followers termasuk sekretaris saya yang diam-diam membeli 100 dollar dengan mengeluarkan uang Rp 910.000 tanggal 7 Januari. Begitu saktikah pasaran offshore dapat meyakinkan 200 juta masyarakat Indonesia bahwa

nilai dollar adalah di atas Rp 10.000?

Menurut saya alasan RAPBN 1998/99 yang didengungkan pasar untuk menaikkan harga dollar sejak kemarin adalah suatu isu untuk “justify the means…” adalah suatu kebiasaan di kalangan traders untuk mencari alasan menggerakkan pasar.

Menurut saya kemenangan psikologis para offshore traders ini adalah karena tidak ada action dari Bank Indonesia untuk mempertahankan rupiah, berupa langkah-langkah proaktif seperti intervensi yang terarah dengan memanfaatkan downward momentum minggu

lalu, maupun kebijaksanaan jangka pendek yang positif bagi rupiah.

Berilah pegangan kepada para pencinta rupiah pelaku pasar lokal untuk “perang”.

Bila melihat ke belakang, sejarah kenaikan dollar terhadap rupiah selama pemerintahan Orde Baru adalah melalui mekanisme devaluasi seperti yang terjadi tahun 1971, 1978, 1983 dan 1986. Artinya pemerintah menjadi inisiator dari kenaikan kurs, atau bahasa trading-nya adalah market maker/price maker. Hasilnya dapat kita lihat, pemerintah secara mantap memegang kendali terhadap gejolak sebagai akibat devaluasi.

Mengapa Bank Indonesia pada situasi sekarang ini tidak dapat berperan sama sebagai market maker? Kalau perlu melakukan kebijaksanaan revaluasi. Secara logika ini dapat dilaksanakan, dan tidak akan membawa akibat lebih buruk dari kondisi sekarang kalau yang

dikhawatirkan adalah masalah kepercayaan asing.

Membiarkan nasib rupiah pada mekanisme pasar global valuta asing adalah keliru dan fatal. Apakah kita rela bila hasil pembangunan yang selama 30 tahun ini hancur dalam sekejap oleh kapitalis dan opportunistic investors di pasar bebas? Kalau saya tidak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s