LANGKAH LAIN SETELAH KEGAGALAN IMF


 

REFORMASI EKONOMI :

LANGKAH LAIN SETELAH KEGAGALAN IMF

 

Oleh: Dicky Iskandar di Nata

 

KRISIS moneter di Asia tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Bahkan semakin hari keadaan sedemikian buruk, sehingga tak mensisakan harapan. Kalau sebelumnya negara-negara di Asia– termasuk Indonesia, banyak bergantung pada IMF, International Monetary Fund, sebagai dukun penyelamat, mungkin saatnya berpikir lain. IMF, ternyata bukan dukun sakti yang mengobati penyakit, tapi malah menebar bibit penyakit. Ibarat kata, kita payah karena sakit jantung, IMF melakukan amputasi tangan dan kaki. Mungkin tidak banyak orang awam tau bahwa sebab musabab krisis adalah IMF sendiri, dengan memaksakan kebijakan ‘ kebebasan perputaran arus modal’ , free flow of capital , dan deregulasi sektor keuangan.

Mungkinkah ada langkah lain?

 

Dogma IMF

Perekonomian dunia memang terpesona oleh IMF. Lembaga keuangan internasional yang semula didirikan dengan misi membantu anggota-anggotanya mengatasi defisit dalam neraca pembayaran itu, kini sudah menjadi kekuatan penentu yang mampu mendiktekan ‘dogma’. Pengaruh pinjaman yang diberikan sampai ke 75 negera berkembang, dengan jumlah penduduk 1,5 milyar jiwa. Berdasarkan dalih untuk kemakmuran dan pemerataan, IMF merebut banyak kepercayaan. Termasuk negara kita yang menjadi murid yang patuh.

Dalam mekanisme kerjanya, sebelum memberi bantuan IMF mensyaratkan beberapa kondisi yang harus dipatuhi oleh negara peminjam. Sebelum mengucurkan dana 43 milyar dollar, sebagai ‘jaminan penuh’, bail out program, persyaratan – persyaratan tertentu harus dipenuhi oleh Indonesia. Sekurangnya sejak Oktober 1997, prasyarat kondisi itu mulai diterapkan.

Salah satu yang mendasar dari prasyarat itu adalah perubahan cara ortodoks : kontrol inflasi dengan suku bunga tinggi, kontraksi ekonomi, kebijaksanaan uang ketat, pengurangan anggaran belanja pemerintah, penghapusan segala bentuk proteksi. Semua negara penerima bantuan disodori ‘paket’ yang sama.

Kita semua merasakan — bukan hanya tahu– dengan pedih, bahwa ‘paket-paket’ tersebut ternyata tidak berhasil. Untuk tidak mengatakan menambah keadaan yang sudah terpuruk makin buruk.

 

Merosotnya Rupiah

Realitas empirik membuktikan ‘resep IMF’ memperkeruh suasana yang jenuh dengan keluhan. Misalnya kontrol inflasi, justru sekarang mencapai 100 persen. Kebijaksanaan suku bunga tinggi, di atas 50 %, jauh lebih buruk dari Oktober 1997, menghancurkan dunia usaha. Sementara rupiah makin letih-lesu-lemah, sehingga dalam sembilan bulan saja, nilai tukar rupiah dari Rp. 3500-an, menjadi Rp. 17.000.

Permulaan kerja, November 1997 pun terlihat. Likuidasi 16 bank, justru menyebabkan masyarakat tidak percaya lagi akan dunia perbankan nasional. Tiadanya subsidi untuk BBM dan listrik, lebih menyengsarakan masyarakat sehingga memuncakkan ‘kerisauan sosial’, social unrest. Tekanan terhadap gaji atau upah pada akhirnya bermuara pada PHK dan pengangguran.

Masih berentet akibat lainnya, rasanya tak perlu dirinci satu persatu. Hanya mengenai kebijaksanaan perbankan saja, misalnya, menghasilnya ketidak-percayaan pada bank nasional. Akibatnya masyarakat deposan mengirimkan tempat penyimpanan pada bank yang lebih aman, di luar negeri. Sementara kalangan perbankan luar negeri juga menarik dananya beserta segala fasilitas kredit yang diberikan kepada bank-bank nasional, termasuk fasilitas elce, letters of credit . Akibatnya, perdagangan impor dan ekspor praktis terhenti.

Pelarian modal’ dari dalam ke bank-bank di luar negeri, offshore. Dana yang diparkir di bank-bank ‘ diluar wilayah hukum Indonesia’– sehingga tak bakal terkena likuidasi atau sannering, jumlahnya luar biasa besar.

Inilah yang menjadi permasalahan saat ini. Dan seperti kita tahu, janji kucuran dana dari IMF sebesar 43 milyar dollar, masih juga di’encrit-encrit’, masih dikucurkan setetes demi setetes tak kunjung pasti. Ibarat penderita kehausan dan dehidrasi, bukannya diberi air minum, melainkan tetesan infus dan janji.

 

Langkah Lain

Masalahnya sekarang adalah : apakah selain IMF, tak ada dana lain yang bisa dipergunakan? Atau lepas pas, apakah selain IMF tak ada sumber dana lain yang prasyaratnya tidak menjerat?

Jawaban ini barangkali menjadi utama dan terutama, mengingat ‘jurus-jurus IMF’ ternyata bagai pagar yang makan tanaman sendiri. Bahkan kalau kita berkaca pada ‘kasus Meksiko’ pada tahun 1995, negara Amerika Latin dan Afrika di tahun ‘80’an, sampai kini pun negara-negara tersebut masih sedemikian tergantung pengendalian dan dikte IMF. Yang lebih menyedihkan lagi, banyak rakyatnya yang miskin.

Jawaban masalah ini, Pertama : barangkali adanya dana-dana yang sekarang berada di bank-bank Singapura atau Hongkong milik masyarakat kita sendiri. Bagaimana menarik kembali dana-dana ini, dalam artian menjamin penuh rasa aman pemiliknya. Itu yang sangat besar maknanya bagi reformasi ekonomi kita secara keseluruhan. Kedua : Sejak jaman sekolah rakyat , kita semua diajari betapa kayanya negara kita ini akan sumber alam. Yang jelas misalnya, sudah terbukti adalah deposit emas di Pongkor , gas di Natuna. Mungkin kita bisa jual dengan sistim ijon. Atau dalam bahasa kerennya, di securitized, melalui penerbitan obligasi . Ketiga: Banyak negara temen-temen kita seperti Jepang , Singapura, Brunei,Jerman yang berkepentingan jangan sampai republik ini ambrol. Pasti mereka mau pinjemin duit tanpa syarat yang bertele-tele. Banyak jurus lain yang bisa dipakai untuk mencarti dana diluar IMF, karena negara kita sudah kadung punya hutang sebesar US$ 160 milyard. Dalam dunia kredit –mengkredit berlaku rumus; kalau hutang kita besar, maka kita akan dicari para bankir untuk diberi hutang tambahan supaya hutang lama bisa kembali. Kalau hutang kita pas-pasan kita akan dicari debt collector, menagih supaya dibayar.

Pokok persoalan adalah mengembalikan kekuatan rupiah, yang bisa kita lakukan tanpa campur tangan IMF. Barangkali belum saatnya bagi rupiah untuk bertarung dipasar bebas, yang penuh dengan spekulan dan aji mumpungist . Biarlah rupiah bertarung di pasar lokal saja , sedikit diatur oleh Bank Indonesia dan tidak lepas kendali.

Para petinggi pemerintah hendaknya memberi rasa aman kepada pemilik dana yang masuk , dan pada gilirannya dunia usaha bergerak kembali, dan sentuhan usaha masyarakat secara keseluruhan bangkit. Pabrik bekerja kembali, produk menjadi ada, diserap masyarakat, memberi jaminan kepastian dan kepercayaan diri melakukan investasi. Yang pada gilirannya daya tahan masyarakat pulih kembali.

Rasa-rasanya ‘resep sederhana’ bisa merupakan langkah lain. Merupakan alternatif, setelah ‘Indonesia Makin Failit’, yang keliru mengantisiapi. Bahwa ada unsur yang menyebabkan ‘kepanikan massa’ ketika terjadi likuidasi bank, ketika BBM dinaikkan. IMF tak mengetahui atau buta pada dinamika khas masyarakat kita : peri laku yang lebih kita ketahui dibandingkan orang lain. Dinamika yang kita ketahui persis karena kita semua berada di dalamnya.

Akan halnya dana yang terlanjur ‘terbang’ dan diupayakan kembali, jumlahnya jauh lebiuh besar dari yang dijanjikan oleh IMF. Kebijakaan utama mengembalikan ini, disusul oleh jurus ‘mengambang terkendali’ atas kurs dollar, akan menghasilkan rasa percaya diri nasional.

Ketika itulah sebagai bangsa kita berbangga mampu mengatasi krisis kemelut yang bahkan tak mampu diatasi oleh ‘dewa-dewa ekonom internasional’. Titik balik bertumpu pada kekuatan sendiri, dan bukan pada kekuasaan belas kasihan dari orang lain, awal pemulihan krisis kepercayaan. Yang sangat segera mengelimir krisis-krisis lain : apakah krisis ekonomi, perbankan, krisis sosial….

Satu ayunan langkah lain, suasana bangsa yang sakit menjadi bangsa yang sakti. Semoga.

 

230702

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s